Musik, Politik dan Intrik

"...yang kadang membuat gerah adalah ketika pelaku politik memanfaatkan popularitas musisi untuk mencari posisi. Musik dan musisi dijadikan komoditas dalam meraup jumlah suara..."

0
139
Ilustrasi oleh Mike Wikovich / Margaret Haflett.

GeMusik News – Suatu pagi, pada kamar hotel di suatu kota ketika menemani beberapa gitaris Indonesia menjalani tur, saya melakukan ritual rutin. Yakni, mengecek satu-persatu channel televisi lokal. Kalau bukan mencari cuplikan pertandingan sepakbola, acara musik adalah program yang selalu membuat rasa penasaran saya memuncak. Meski ujung-ujungnya berakhir dengan kekecewaan karena acara musik yang ada masih dibungkus kemasan gosip dan guyonan kurang mendidik. Saya tidak pernah berhenti berharap akan datangnya keajaiban.

Tahun 2018 baru memasuki bulan pertama. Meskipun ada TV kabel yang menyediakan varian channel berkualitas, saya masih melakukan ritual yang sama seperti enam tahun lalu; mengecek acara musik di televisi lokal!

Tapi kali ini saya langsung sadar. Harapan yang sempat saya ucapkan dalam hati di penghujung tahun lalu akan adanya acara musik berkualitas di televisi lokal tahun ini, mulai kandas. Saya melupakan satu hal: 2018 dan 2019 adalah tahun politik – Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) serentak dan Pilpres (Pemilihan Presiden).

Berharap munculnya acara musik berkualitas di televisi lokal memang ibarat mimpi. Apalagi jika menggantungkan harapan pada televisi berbasis partai politik. Meski masih ada beberapa televisi yang menampilkan acara musik hidup yang ditunggu-tunggu khalayak musik seperti Taman Buaya Beat Club atau DCDC Musikkita. Atau sebuah program yang menghadirkan info dan video musik dari Indonesia serta mancanegara, Breakout.

Tapi jujur, itu belum cukup untuk menampung semua band berkualitas yang ada di Indonesia. Tapi setidaknya masih bersyukur karena masih ada televisi yang sudi menyuguhkan acara berbobot.

Berbicara soal politik, area yang identik dengan ajang rebutan kursi ini juga sampai menggiring sejumlah musisi untuk ikut terjun ke dalamnya. Salah satunya Giring Ganesha. Vokalis band Nidji ini meninggalkan teman-teman band-nya untuk menjalani peran baru di salah satu partai politik yang akan berkompetisi pada Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun 2019 mendatang. Untunglah teman-teman Giring tidak hilang akal. Mereka sudah menyiapkan sekoci bernama Nev+ (baca; Nev Plus) sejak tiga tahun lalu, sehingga kini hanya tinggal mendayungnya dengan kecepatan maksimum.

Saking besarnya magnet virus politik mau tidak mau menyedot perhatian banyak orang. Momen Pilkada maupun Pilpres di tanah air memang selalu menghadirkan riak di segala lapisan.

Tetapi, tidak semua musisi atau personel band bersikap seperti Giring. Ada juga yang sebatas ‘risih’ dengan gejolak yang ditimbulkan virus ini sambil berharap persatuan dan kesatuan bangsa kembali terjalin. Sebut saja Konspirasi, OMNI, dan Jikunsprain. Tiga band rock beroktan tinggi itu menyuarakan kondisi terkoyaknya perdamaian rakyat Indonesia yang diakibatkan panasnya suhu politik saat Pilpres 2014 dan Pilgub (Pemilihan Gubernur) DKI 2017 melalui lagu “Mantra Provokasi”, “Negeri Api”, dan “BerTuhan dengan Marah”.

Lalu, salahkah jika musisi berpolitik seperti Giring?

Tidak juga. Tapi jika hal ini ditanyakan kepada drummer Superman Is Dead, Jerinx, yang terkenal vokal menyuarakan penolakan reklamasi Bali tentu lain ceritanya.

Dalam sebuah cuitannya di Twitter pada Mei 2014 silam, ia memiliki pendapat sendiri terkait musisi yang berpolitik – dalam hal yang terjadi saat itu adalah keberpihakan musisi/band tersebut kepada salah satu Calon Presiden.

“Sah-sah saja musisi/band pro pada salah satu Capres. Tapi jika nanti Capres tersebut ‘disetir’ untuk kepentingan parpolnya, siap-siap saja menanggung malu. Bagi saya pribadi, musisi ya memang idealnya enggak memihak Capres manapun. Oposisi selamanya,” tukasnya. “Parpol bisa bayar orang-orang jenius untuk membuat pencitraan yang sedemikian rapi dan membuminya sampai-sampai kita lupa jika semua ini adalah ilusi.”

Pendapat Jerinx juga tidak salah. Pasalnya, stigma politik yang kadung negatif dan kejam membuat dunia musik jauh lebih mengasyikan jika dilihat dari sisi kenyamanan.

Winston Churcill, Perdana Menteri Inggris semasa Perang Dunia II (1875-1965), bahkan sampai mewariskan sebuah nalar dalam memandang politik dengan kata-kata: “Dalam perang anda hanya bisa terbunuh sekali, tapi dalam politik anda bisa mati berkali-kali.”

Kejam, kan? Dan jika Giring ditinggalkan sebagian penggemarnya akibat terjun ke dunia politik, maka itu adalah sebuah konsekuensi yang harus diterima.

Lalu apa sih sebenarnya yang membuat saya terkesan alergi dengan hal-hal berbau politik? Sebetulnya bukan alergi. Kalau alergi, saya mungkin tidak akan pernah membuat tulisan ini. Atau bahkan tidak mau lagi berteman dengan para personel Konspirasi, OMNI, dan Jikunsprain. Saya hanya kurang suka dengan dampak yang ditimbulkan oleh gejolak politik itu sendiri. Apalagi jika melihat Pilpres 2014 dan Pilgub DKI tahun lalu di mana kawan menjadi lawan, hanya karena beda pandangan dan pilihan. Semuanya penuh intrik.

Selain itu, yang kadang membuat gerah adalah ketika pelaku politik memanfaatkan popularitas musisi untuk mencari posisi. Musik dan musisi dijadikan komoditas dalam meraup jumlah suara yang bisa menerbangkan si calon (pemimpin daerah/negara) ke area investasi syahwat semata. Atau politikus dan partai memanfaatkan sebuah event musik dengan dalih memberi dukungan padahal berniat mencari kendaraan pendukung yang bisa membawa mereka ke Senayan. Itu yang sering membuat saya mengeleng-gelengkan kepala.

Tahun ini dan dan tahun depan, akan kembali menjadi tahun-tahun yang panas bagi rakyat Indonesia. Pilkada serentak (selain DKI) dan Pilpres akan kembali meneteskan perdebatan dan adu opini dari segala penjuru. Lalu ke manakah pilihan saya tertuju? Jelas sekali itu bukan hal yang penting. Mengingat saya bukanlah orang berpengaruh baik di dunia politik maupun di dunia musik.

Tapi jika boleh jujur, saya tetap memiliki idealisme untuk bersikap netral dengan memegang falsafah yang pernah dilontarkan Kurt Cobain (Nirvana) semasa hidupnya: “They laugh at me because I’m different; I laugh at them because they’re all the same.”

Sikap ini juga berlaku ketika saya menentukan channel televisi mana yang bakal saya tonton. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here