Ode Buat Dolores

Sang perempuan dan band yang bernama The Cranberries itu meninggalkan banyak sekali jejak dan kenangan yang mendalam di Indonesia.

0
371
rip dolores
Dolores O'Riordan - Foto Dok. Rolling Stone / Getty Images.

“Siapapun yang besar di era ‘90-an pasti ingat dengan lenguhan khas Dolores O’ Riordan dalam ‘Zombie’. Yang tidak ingat, sorry to say, anda mungkin sedang di Mars saat itu. Dunia sedang dijangkiti ‘Zombie’!”

Begitu yang ditegaskan Fakhri Zakaria dalam salah satu tulisan di blog pribadinya. Sekedar informasi, Fakhri Zakaria adalah penulis musik yang berkontribusi untuk Jakartabeat, Rolling Stone Indonesia, Pop Hari Ini, dan banyak media lainnya. Dan yang paling penting di sini, pria yang akrab dipanggil Jaki itu – setidaknya menurut teman-teman dekatnya – merupakan penggemar berat grup band The Cranberries.

Jaki dan orang-orang yang (pernah) menyukai The Cranberries, hari ini pasti sedang berduka.

#RIPDoloresORiordan
Beberapa jam yang lalu, kabar duka mendadak memenuhi linimasa media sosial dan rubrik breaking news di seluruh dunia. Vokalis band rock alternatif asal Irlandia, The Cranberries, Dolores O’Riordan, dikabarkan meninggal dunia pada usia 46 tahun. Dolores tengah berada di London untuk sesi rekaman saat dinyatakan meninggal dunia di hotel London Hilton, pada hari Senin (15/01) petang waktu setempat.

Sejauh ini, belum diketahui secara pasti apa penyebab dari kematian Dolores. Pihak kepolisian setempat kabarnya sedang melakukan proses penyelidikan terkait musibah ini.

Pihak publisis dan juru bicara The Cranberries telah mengkonfirmasi berita kematian mendadak Dolores itu. Melalui akun Facebook resmi The Cranberries, mereka juga menyatakan kalau pihak keluarga Dolores sangat terpukul dan meminta waktu privat yang lebih sehubungan dengan kabar duka ini.

Kiprah Dolores dan The Cranberries
Dolores Mary Eileen O’Riordan lahir di Limerick, Irlandia, pada tanggal 6 September 1971. Ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara hasil pasangan Terrence dan Eileen O’Riordan.

Pada tahun 1990, Dolores ikut audisi band dan terpilih menjadi vokalis utama dari The Cranberry Saw Us – yang kemudian berganti nama jadi The Cranberries. Selama karirnya bersama The Cranberries, mereka telah merilis lima album: Everybody Else Is Doing It, So Why Can’t We? (1993), No Need to Argue (1994), To the Faithful Departed (1996), Bury the Hatchet (1999), serta Wake Up and Smell the Coffee (2001). Satu rekaman kompilasi juga sempat dirilis dalam titel Stars: The Best of 1992–2002.

Setelah 13 tahun, The Cranberries memutuskan untuk hiatus atau vakum sementara pada tahun 2003. Selama masa jeda itu, Dolores mencoba karir solo dan sempat merekam dua album, yaitu Are You Listening? (2007) dan Baggage (2009).

Sejak tahun 2009, Dolores dkk kembali bereuni dan melakoni beberapa konser di Amerika dan Eropa. The Cranberries juga sempat menambah diskografi albumnya dengan merilis Roses (2012) dan Something Else (2017).

Dan sepeninggal Dolores sekarang, kita masih belum tahu bagaimana nasib The Cranberries ke depannya…

Rekam Jejak The Cranberries di Indonesia
“Serangan ‘Zombie’ asal Irlandia yang begitu masif membuat The Cranberries menapaki tangga popularitas. Tak terkecuali di Indonesia. Teori yang menyatakan indikasi lagu bakal jadi populer adalah ketika anak-anak mampu menyanyikannya, menemui kebenaran,” tulis Fakhri Zakaria di tahun 2013. “Pun meski sudah mengalami adaptasi pelafalan sesuai lidah lokal anak-anak Indonesia menjadi ‘Iyoheeee… iyoheeeeee…’. Lirik aslinya sendiri: ‘In your head, in your head…’

Membicarakan Dolores atau The Cranberries di Indonesia memang tak akan lepas dari lagu “Zombie”. Tembang tersebut terlampau hits akibat rotasi airplay yang tinggi di stasiun radio hingga MTV. Ya, saking hafalnya, kita mungkin selalu mengingat setiap adegan dari video klip “Zombie” yang kesohor itu.

“Zombie” juga kerap dinyanyikan ulang di atas pentas – mulai dari stage pertunjukan musik yang megah sampai ke panggung-panggung kelas Agustusan. Status lagu seperti “Zombie” itu sudah seesensial dan seklasik lagu “Smells Like Teen Spirit”, “Jeremy”, “Creep”, atau “Wonderwall” bagi kuping rock alternatif. Kord-nya juga cukup mudah dibawakan dengan gitar bolong di perempatan.

Fakhri Zakaria bahkan berkelakar ketika bilang “Lagu populer adalah lagu yang sudah dibuat versi dangdutnya.” Itu terjadi ketika ia menemukan kenyataan pada Eet Sangra yang menginterpretasikan “Zombie” dalam versi dangdut lokal melalui “Katanya (Aku Bukan Bola)”.

Bagi generasi ‘90-an yang hidup di era No Need To Argue, The Cranberries mungkin adalah sosok female-fronted band yang pertama kali dikenal dengan baik. Dolores sendiri bisa dianggap sebagai ikon musisi dan vokalis perempuan yang paling penting di zaman itu – sedikit melebihi Courtney Love (Hole), Nina Persson (The Cardigans), Shirley Manson (Garbage), Gwen Stefani (No Doubt), atau Linda Perry (4 Non Blondes).

Sementara di era yang sama, Alanis Morrisette dan Sheryl Crow juga melakoni peran yang serupa pada jalur karir solonya. Mereka semua yang membentuk citra musisi rock perempuan yang gemilang pada periode emas sembilan-puluhan.

Menariknya, Dolores – dan musisi perempuan yang disebut di atas – menjadi figur atau role model bagi kaum hawa yang tertarik untuk terjun ke dunia musik. Bahkan mereka tampak begitu kuat dan menginspirasi – tanpa perlu teriak-teriak soal Girl Power atau mengutip mentah-mentah persoalan feminisme.

Perempuan seperti Dolores hanya ingin membuat musik – juga lirik – yang bagus. Dan mereka sudah cukup berhasil. Apakah lalu sanggup menginspirasi kaumnya?! Tentu saja.

Pada masa lagu-lagu The Cranberries mendominasi pasar, hampir semua vokalis perempuan di Indonesia ingin bisa bernyanyi seperti Dolores. Tengok saja pada Kikan (Coklat) atau vokalis band-band kafe / Top40. Sayang, kebanyakan dari mereka gagal total. Nyatanya memang tidak mudah mengadopsi corak vokal Dolores ke lidah dan cengkok Melayu.

Malah, kalau boleh jujur, yang paling mendekati vokal Dolores justru seorang pria. Namanya Jalu atau dikenal dengan nama panggung Sind3ntosca. Iya, dia yang pernah populer dengan lagu “Kepompong” itu. Simak di kanal YouTube-nya kalau tidak percaya. Dari dulu dia sering mengkover lagu-lagu The Cranberries – dengan nyaris sempurna.

Sejatinya, The Cranberries pernah manggung di Indonesia. Bahkan Dolores dkk sampai dua kali menyambangi negeri ini. Pertama, dalam konser tunggal garapan Java Musikindo di Tennis Indoor Senayan, Jakarta (2002). Kedua, The Cranberries menjadi salah satu headliner pada festival musik Java Rockin’ Land 2011 di Ancol, Jakarta. Konon menurut para saksi mata, kedua show tersebut berlangsung apik, seru dan sukses. Sungguh beruntung mereka yang sempat menyaksikan langsung konser Dolores dkk.

Kepergian Dolores memang akan menyisakan banyak duka dan kenangan bagi fans-nya di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, The Cranberries ikut membentuk selera musik penggemarnya di zaman mereka masih bocah dan remaja. Seperti yang banyak terlontar dari unggahan di media sosial sejak dini hari tadi.

“Rest in peace, @DolORiordan. Thank you for being a part of my childhood. Your voice will always linger. #RIPDoloresORiordan,” tulis @missciccone, seorang penggemar musik pop yang taat.

Vokalis Seringai, Arian13, juga mengenang perkenalannya dengan musik The Cranberries: “The Cranberries ‘Everybody Else Is Doing It, So Why Can’t We?’ dulu pas baru rilis langsung jadi soundtrack keseharian jaman masih SMA tahun terakhir dan awal kuliah. diputer terus,” tulisnya melalui akun Twitter @aparatmati. “Tapi gue benci hits The Cranberries, ‘Zombie’. Untung lagu-lagu lain di No Need To Argue bagus. ‘Animal Instinct’ kayaknya jadi lagu favorit terakhir sebelum gue gak ngikutin mereka lagi.”

“Konser The Cranberries di Tennis Indoor Senayan, 2002, pecah sih. Sayangnya nggak bisa nonton yang di Java Rockin’ Land, 2011. Sakit. Kebayang singalong-nya lagu kayak ‘Linger’ atau ‘Dreams’ itu pecahnya gokil sih, bikin merinding,” tambah Arian13.

“The Cranberries adalah titik awal saya mencintai female vocals dan alt-rock secara umum. Album No Need To Argue mengawali sejarah saya mengoleksi rilisan fisik,” tulis Gembira Putra Agam di status Facebook-nya. Ia bahkan sempat bernostalgia tentang album itu pada blog-nya Budi Warsito (Kineruku), lima tahun lalu.

“Pertama kalinya datang ke Jakarta diajak sahabat saya, Fahmi Fadly, ya nonton The Cranberries di Tennis Indoor Senayan 2002 silam. Selamat jalan Dolores…” tulis Afril pada status Facebook-nya. Sang vokalis band grindcore Extreme Decay itu memang dikenal sebagai fans berat The Cranberries.

Penulis rock, Wendi Putranto, mengenang pengalamannya di tengah konser The Cranberrries, “Jadi inget momen pertama nonton konser The Cranberries di Tennis Indoor Senayan (21 Agustus 2002) sewaktu liputan untuk Tabloid Rock. Vokal Dolores menghipnotis sepanjang 23 lagu dengan gaya dansanya yang aneh, ngangkang dan patah-patah.”

“Konser The Cranberries pada 2002 ngasih encore gak tanggung-tanggung waktu itu, 5 lagu, termasuk ‘Promises’ dan ‘Dreams’ yang sempet jadi soundtrack film keren, You’ve Got Mail. Promotornya legend nih, Java Musikindo,” tulisnya melalui akun Twitter @wenzrawk.

Kepergian Dolores merupakan pukulan yang telak dan duka yang mendalam bagi semua penggemar The Cranberries di mana pun, termasuk di Indonesia. Dolores dan The Cranberries dianggap mampu memantik semangat para perempuan untuk naik ke atas panggung, masuk ke studio musik, serta menggenggam mikrofon dengan berani, jujur dan penuh rasa percaya diri.

Persis seperti yang dikatakan Fakhri Zakaria dalam kolom Twitter-nya beberapa jam lalu, “Dolores mengangkat derajat perempuan dalam band bukan cuma sekadar jadi gimmick. Mendorong mereka maju ke depan dan berperan signifikan…”

Selamat jalan, Dolores. Lenguhanmu abadi.

And in the night, I could be helpless,
I could be lonely, sleeping without you.

And in the day, everything’s complex,
There’s nothing simple, when I’m not around you.

But I’ll miss you when you’re gone, that is what I do…

(When You’re Gone, The Cranberries)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.