Penantian Mida Party

Tiga metalhead yang cabut dari ranah metal dan melompat kepada menu crossover disko dan city pop Jepang.

0
49
Mida Party
Formasi Mida Party (dari kiri ke kanan): Stephen Kardus (drum), Marco DiGoda (vokal), Marina Kardus (keyboard), dan Antonio Salto (gitar). Sumber: (Dok. Mida Party)

GeMusik News – Vakum berkepanjangan yang dialami band metalcore asal Kota Hujan, Bogor, Benigno Anthony, membuat tiga personelnya; Marco DiGoda, Antonio Salto dan Stephen Kardus menerobos batas-batas wilayah musik yang biasa mereka mainkan. Ketiganya bereksplorasi melalui persilangan nakal musik disko, kematangan city pop Jepang, dan packaging ala Spandau Ballet. Chemistry yang sudah terjalin di antara ketiganya sejak tahun 2007 membuat band ini optimistis dengan bendera anyar bernama Mida Party.

Ya, tiga anggota band yang terbentuk tahun 2016 ini sudah sejak lama memiliki persamaan selera terhadap musik-musik Jepang era lawas. Ini semua berawal dari kegemaran mereka mendengarkan grup fusion legendaris Jepang, Casiopea, yang ditindaklanjuti dengan membentuk sebuah grup musik yang secara nuansa mampu menggugah Generasi Y (generasi milenial). Seperti yang kita ketahui, musik EDM (Electronic Dance Music) tengah merajalela di kalangan generasi kekinian. Dan hal yang paling digarisbawahi para anggota Mida Party, penggunaan instrumen-instrumen berformat band kini makin terkikis.

Baca Juga: Tren Basi Demi Ambisi

Mida Party – yang berambisi membuat musik yang mampu mengajak khalayak ‘bergoyang’ – melihat penggunaan elemen musik pop dan disko ‘80an sebagai peluang bagus untuk menjembatani ‘generasi EDM’ dengan ‘generasi gitar’. Maka, muncullah musik seperti yang ditelurkan oleh mereka. “Jenis musik yang kental akan nuansa elektronik ‘80-an dan di saat yang sama mengandung dominasi instrumen berbasis senar (gitar dan bass),” tukas Marco kepada GeMusik.

Melalui peleburan musik yang berkembang di era Generasi X dan Generasi Y, Mida Party berharap musik yang mereka suguhkan mampu menjadi contoh atau bahkan blueprint untuk musisi-musisi generasi berikutnya dalam memformulasikan musik yang terasa nostalgis namun fresh di saat yang sama. “Kami percaya, musik kami bisa merangkul dua generasi tersebut. Bagi Generasi Y musik kami akan terasa inovatif. Bagi Generasi X, memberikan harapan bahwa ‘generasi gitar’ tidak akan mati,” timpal Antonio.

Persamaan selera dan perpaduan elemen musik mereka ini telah dikemas dalam sebuah album mini (EP) bertajuk Sugarcandy City yang dirilis melalui netlabel Jepang, Bump Foot, sejak pertengahan Desember 2017 kemarin. Salah satu video musik dari album ini, “Lay Solitary” bahkan telah diedarkan secara resmi melalui channel YouTube mereka beberapa pekan sebelumnya. Penggarapan EP dan video musik perdana Mida Party ini sendiri banyak dibantu oleh musisi berpengalaman asal Bogor, Edu Christanto (Cause, Akar Bambu, Fade 2 Black).

Baca Juga: Berbisa Semburkan Mini Album Perdana

“Suka duka yang dialami Marco, Antonio, dan Stephen selama mengarungi dunia metal bersama Benigno Anthony telah mendewasakan mereka dalam menjalani proses rekaman EP ini, khususnya dalam hal mengaransemen lagu. Dengan dimilikinya kendali yang bisa dibilang penuh atas musik kami, ketiganya menyadarai benar akan hal-hal yang menjadi tuntutan bagi seorang aranjer,” satu personel Mida Party lainya, Marina Kardus, mengomentari kematangan tiga temannya dalam mengeksekusi proses rekaman EP Sugarcandy City.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here