Perayaan 20 Tahun Antiphaty, Tak Sekedar Pesta Hura-Hura

0
301

GeMusik – Antiphaty, unit hardcore punk asal Malang genap berusia 20 tahun. Pesta pora eksistensi band yang sudah menginjak usia dua dekade ini digelar sangat meriah. Tak sekadar hura-hura ala anak punk, acara bertajuk “Antiphaty 20 Years Anniversary” yang dihelat di God Bless Café 2, Sabtu (18/2) sangat terkonsep rapi.

Atmosfer kemeriahan hari jadi Antiphaty, sudah terasa saat menginjakkan halaman parkir café. Ratusan fans fanatik dari berbagai penjuru, antusias untuk berpesta malam itu. Saking melubernya halaman parkir, pihak God Bless Café sampai mengalihkan parkir kendaraan di gedung Telkom yang berada tepat disebelahnya.

Antiphaty Songlist, Pic. by Samack

Meskipun dibanderol dengan tiket seharga 20 ribu, tak menyurutkan minat para pecinta musik cadas itu untuk hadir, kurang lebih sekitar 600 tiket ludes terjual malam itu. Benar-benar memperhatikan kenyamanan dan keamanan, nampak 2 petugas berpakaian safari berjaga sembari memegang alat pendeteksi. Hal itu dilakukan sebagai upaya antisipasi hal yang tidak diinginkan. Melakukan body check secara bergantian dilakukan untuk mengamankan sejumlah barang yang dianggap membahayakan dan bisa memicu kericuhan.

Usai melewati pemeriksaan petugas keamanan, sudut pertama yang menarik perhatian adalah stan dari Malang Tattoo Community. Sesuai dengan namanya, di lokasi ini nampak para tukang tato sedang melukiskan karyanya di atas kanvas berbahan kulit manusia. Sedikit bergeser, terlihat lapak rilisan fisik, mulai dari vinyl, dvd, cd, kaset, dan merchandise berupa kaos dan sejenisnya. Mereka yang membuka lapak tersebut tergabung dalam komunitas Malang Records Label.

Menoleh kearah seberang dari stan lapakan, terpampang photo booth yang menampilkan ornamen-ornamen khas ala punk. Perpaduan antara kawat pagar melintang dengan kayu-kayu palet bekas, memajang logo Antiphaty, pihak sponsor pendukung, dan sederet logo media partner. Sampai akhirnya tim GeMusik mendapatkan tempat yang lumayan strategis untuk mengabadikan momen serta menikmati jalannya acara malam itu. Terdapat perubahan set panggung, background gelap menjadi pilhan, dengan hanya menampilkan logo tengkorak khas Antiphaty dibagian tengahnya, serta ada penambahan lighting, lalu dibagian kiri, kanan, depan set drum diberi pagar kawat bersilang. Barricade juga terpasang disepanjang bagian depan panggung.

Terdengar lantunan beberapa lagu dari band pembuka, sebelum menuju acara puncak Antiphaty naik panggung. Tujuh band tercatat sebagai pendamping diantaranya, Pukul Rata (Malang), Reject (Bali), Neurosesick (Malang), No Man’s Land (Malang), Extreme Decay (Malang), Error X (Jakarta) dan Rottenomicon (Malang), Pukul Rata berhalangan hadir karena satu dan lain hal.

Kualitas sound terdengar sangat berbeda sekali malam itu, persiapan dilakukan satu hari sebelum acara digelar, dengan menata ulang jalur input dan output, membongkar total tatanan yang sudah ada sebelumnya, untuk mendapatkan sound dengan kualitas yang maksimal, dentuman yang keras namun tidak sakit ditelinga.

Tiba waktunya Antiphaty naik panggung. Menyiapkan catatan sebanyak 20 lagu mereka mengawali puncak acara malam itu. Dibuka dengan “Make Raw Not War”, penonton seakan terbius dan langsung berhamburan untuk berpogo ria serta melakukan stage diving. Acara ini juga sebagai ajang reuni bagi personel Antiphaty dimana mereka sempat mengalami pergantaian drummer dan bassist. Eko iPloo adalah drummer pertama Antiphaty yang kini aktif sebagai drummer Extreme Decay dan Arthur bassist pertama tampil bersama Antiphaty membawakan beberapa lagu.

Beranjak pada lagu ke-16, Antiphaty kembali menghadirkan tamu special, Catur sang vokalis berujar dihadapan penonton “Kali ini akan saya hadirkan yang seger-seger, biar gak terlalu tegang”, penonton pun bersorak dan bertepuk tangan, dipanggil naik keatas panggung, Enna (Vokalis Anti Police Punk Rock), penonton pun semakin bersemangat, seakan tak kehabisan tenaga, terus berpogo dan melakukan stage diving berulang-ulang, hingga ada saat terjadi gesekan kecil yang menimbulkan kericuhan, namun dengan sigap beberapa panitia dan juga penonton segera meredam dengan mengeluarkan si pemicu keributan keluar dari ruang pertunjukan.

Sampai pada puncak acara Antiphaty membawakan satu lagu pamungkas yang belum lama ini lagu tersebut dibuatkan video klip (baca disini), yaa lagu andalan yang sudah sangat familiar ditelinga, “Anti Punk Fuck Off”. Energi dan stamina dari para personel Antiphaty menjadi perhatian tersendiri malam itu, bisa dibayangkan capeknya penonton yang sudah disuguhi beberapa lagu dari total 6 band pembuka, dengan jenis musik yang secara keseluruhan tergolong high beat, penonton tak beranjak sedikitpun sampai Antiphaty menngeber 20 lagu, dan itu tidak terlepas dari semangat dari para personil Antiphaty sendiri, ucapan terima kasih selalu terucap dari Catur kepada penonton yang sudah datang dan mau membeli tiket.

Secara keseluruhan acara yang digagas oleh “Mlg Extremerch X SNRG Nation Rockiller” ini terbilang sukses, serba terkonsep, mulai dari konten, sound sampai dekorasi panggung, mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak, terutama lingkaran industri kreatif yang mengerucut pada bidang musik, dari tim pendukung video dan fotografi dikabarkan bahwa acara ini juga akan dimasukkan kedalam bagian pembuatan film dokumenter perjalanan Antiphaty. Sebuah proyek menarik yang layak ditunggu perilisannya. Dan yang tidak kalah penting lagi, dukungan dari seluruh band pendamping yang notabene masing-masing dari mereka adalah band berbahaya dari segi kualitas karya dan perjalanannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.