Promosi Cerdas, Bukan Asal Ngegas

0
213
Irvan Borneo dan Andra
Album solo Irvan Borneo di tangan Andra Ramadhan (Foto : Instagram)

GeMusik – Ada banyak cara buat mempromosikan band atau sebuah karya. Apalagi di era internet seperti sekarang. Media sosial yang berseliweran di mana-mana, memungkinkan anak band untuk menebarkan lagu-lagunya hingga ke pelosok mancanegara. Tapi, ada satu cara promo yang menarik perhatian saya. Meminta foto promosi dengan menggunakan kertas bertuliskan produk yang hendak dijual atau video testimoni kepada orang-orang beken, yang lantas disebarkan di akun jejaring sosial. Cara ini sudah dilakukan banyak band/solois, khususnya yang memiliki kedekatan dengan para musisi atau band beken. Tapi jika yang diminta membuat testimoni berkategori ‘bukan siapa-siapa’, seberapa ampuh cara ini untuk mendongkrak popularitas band dan memviralkan sebuah karya?

Bagi band-band anyar yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, Bandung atau Surabaya. Apalagi para personelnya tergabung di sebuah komunitas musisi yang sering melakukan kopdar (kopi darat), berburu video testimoni atau foto dari musisi atau band terkenal tidaklah sulit. Mereka bahkan tidak perlu menggunakan kertas bertuliskan ‘tetek bengek’. Cukup modal ‘berani ngomong’ dan keikhlasan memberikan CD atau merchandise kepada si artis yang dimaksud, salah satu teknik marketing dengan melibatkan orang ketiga ini akan selesai hanya dalam hitungan detik.

Ovy rif mengenakan kaos Prosatanica
Ovy /rif mengenakan atribut Prostanica. (Foto : Instagram)

Misalnya saja, saat band metal Prosatanica merilis album Pisau Bernoda Darah beberapa waktu lalu. Gitaris mereka, Adam Akbar langsung menyebarkan CD dan t-shirt kepada gitaris-gitaris beken yang kebetulan bernaung di salah satu komunitas musisi yang sama dengan dirinya. Tidak kurang dari Ovy /rif, Vega Antares (Mahadewa), Coki Bollemeyer (NTRL), Gugun GBS, Denny Chasmala hingga Eet Sjahranie dan Donnie Suhendra ikut memberi ucapan selamat dan berfoto dengan CD album di tangan atau t-shirt di badan. Begitu disebarkan di akun media sosialnya, nilai jual album dan t-shirt pun memiliki ‘baderol’ lebih.

Baca Juga: 23 Tahun /rif

Irvan Borneo, gitaris session pengiring Anji yang telah merilis dua album solo berorientasi gitar: Lifeforce (2014) dan Karindangan (2017), juga melakukan hal sama, menyebarkan CD kepada para musisi beken yang dikenalnya dan meminta musisi tersebut berfoto dengan menggenggam karyanya. Tapi tujuan utama Irvan ternyata bukan agar albumnya laris manis terjual. Irvan ‘hanya’ ingin para musisi yang dikaguminya sudi mendengarkan dan memberikan penilaian akan karya rekamnya tersebut. Selebihnya, adalah reward.

Cara yang dilakukan dua musisi ini sama, meskipun memiliki tujuan berbeda dan tentunya hasil yang berbeda pula. Tapi pastinya, mereka beruntung tinggal di kota besar – khususnya Jakarta – dan berteman dengan musisi-musisi beken. Meskipun saya memberikan satu catatan khusus buat Irvan Borneo. Gitaris ini sebenarnya juga sudah cukup beken – setidaknya di dunia pergitaran Tanah Air –  meski tidak memiliki band berkategori ‘besar’. Sebelum menjadi gitaris band pengiring Anji, Irvan Borneo pernah ambil bagian di album dan beberapa show KLa Project, menjadi pengisi part solo salah satu lagu di album solo Ari Lasso serta menjadi mentor dari Sony ‘J-Rocks’.

Nah, bagaimana dengan band atau musisi yang tinggal di daerah? Yang tidak memiliki kedekatan dengan musisi beken dan tidak punya jalur berantai untuk sampai kepada musisi yang dimaksud? Sebetulnya gampang. Namun tentunya, tetap harus dengan perhitungan jitu dan tidak asal pilih sasaran.

Pertama, carilah teman-teman sesama band/musisi daerah yang memiliki tingkat popularitas lebih tinggi dibandingkan band kita. Tidak perlu gengsi. Meskipun umur kita jauh lebih tua atau eksistensi kita secara personal lebih dulu muncul dibandingkan para personel band itu. Lalu mintalah video testimoni atau foto promosi dari band-band tersebut yang lantas disebarkan di akun media sosial kita.

Baca Juga: Lika-liku Perjalanan Musik dan Perkembangan Fashion

Kedua, jika di daerah tempat kita tinggal tidak ada band beken cobalah melompat ke wilayah yang lebih besar. Misal, jika kita tinggal di area berskala Kecamatan maka mau tidak mau kita harus menggali lebih dalam keberadaan band-band beken di tingkat Kabupaten atau Kotamadya. Pasti ada. Tidak mungkin tidak ada! Tinggal buka Facebook atau Instagram, pasti ketemu.

Yang terakhir. Jika perburuan band beken sudah beres, coba arahkan perhatian kepada pejabat daerah, pemerhati musik/seni atau tokoh musik/seni lokal yang memiliki nilai jual tinggi. Saya yakin, di setiap daerah pasti ada seniman lokal tradisional yang beken, pemerhati musik  dan juga pejabat daerah semisal Lurah, Camat, Kapolsek, Bupati dan Walikota… Pasti ada! Dan jika sangat terpaksa. Mintalah video dan foto dari orang partai. Tapi beri syarat, mereka tidak perlu ikut-ikutan promosi!

Cara ini jauh lebih elok ketimbang meminta video dan foto promosi kepada sembarang orang yang ditemui di pinggir jalan dengan alasan ‘asal viral’, seperti yang masih dilakukan beberapa band daerah. Memang tidak ada yang salah dengan cara ini. Tapi jika tujuannya sekadar viral, bukankah menyebarkan lagu yang sedang dipromosikan melalui media sosial saja sudah lebih dari cukup? Kecuali, tujuannya memang cuma ingin menjadi ‘primadona tingkat Kecamatan’. Cara asal nge-gas seperti ini tidak jadi masalah.

Selain belajar kepada Prosatanica dan Irvan Borneo, belajar pulalah kepada Cokelat, band pop rock alternatif yang beken di era 90-an yang kini berusaha bangkit lagi dengan vokalis barunya, Jackline. Sebelum dan setelah merilis single bertajuk “Garuda” pada Juli 2017 lalu, Cokelat begitu aktif memosting video testimoni dari para teman pesohornya.

Tidak kurang dari Anji, D’Masiv, Sony J-Rocks, Robi Navicula, Virgoun, Andre ‘Siksakubur’,  Rio Febrian, Andre Taulany, Andre Dinuth,  Radha ‘Armada’, Sansan ‘Pee Wee Gaskins’, Nadya Fatira,  Daniel Mananta, Marcell Siahaan, hingga Cut Memey mengucapkan selamat atas perilisan single tersebut dan memberikan pesan khusus tentang makna ‘kebanggaan’ sebagai Warga Negara Indonesia.

Saya yakin, cara ini cukup ampuh untuk mendongkrak popularitas. Meskipun bukan satu-satunya cara terbaik promosi, tapi bisa menjadi alternatif dalam upaya mengembalikan nama besar buat band seperti Cokelat.

Kalau mau lebih jauh, ambil contoh band kelas dunia, Def Leppard. Joe Elliot dkk, tahun 2017 ini me-reissue album Hysteria di usia perilisannya yang ke-30 tahun dalam berbagai format mewah. Band sekelas mereka saja masih memegang falsafah: ‘Butuh bantuan yang beken, berpengalaman dan lebih besar’ untuk mengatrol daya tarik’. Meskipun sebenarnya, tidak perlu seperti itu juga. Ya, tidak kurang dari Sammy Hagar, Steven Tyler, Alice Cooper, Dave Mustaine, Bryan May dan KISS memberikan testimoni atas hari jadi album keempat Def Leppard yang lantas diunggah di akun Instagram resmi band asal Inggris ini. Lebih menjual bukan?

So, berpromosilah dengan cerdas seperti layaknya Prosatanica, Irvan Borneo, Cokelat dan bahkan Def Leppard agar nilai jual band dan karya kamu terdongkrak. Jangan asal ngegas!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.