Remissa – Tegangan Tinggi

Album kedua yang masih bermuatan kritik sosial serta memiliki riwayat darah yang sama dengan Manifesto Mimpi.

1
144

GeMusik – Sejak melahirkan Manifesto Mimpi (2016), grup grunge/rock alternatif, Remissa, sudah memutuskan ke mana agenda yang mereka tulis hendak disuarakan. Melontarkan kemarahan kepada penguasa tiran, mengutuk segala tindakan perusakan lingkungan, menyatakan kemuakan terhadap arus informasi media yang hanya menjadi corong demi memuluskan kepentingan segelintir pihak, meletakkan dukungan pada mereka yang berjuang mempertahankan haknya yang dirampas.

Termasuk juga hak untuk memilih keputusan jalan hidup para personil Remissa yang telah menginjak usia seperempat abad.

Suara-suara itu mereka ciptakan tentu bukan tanpa alasan – mengingat latar belakang para personil personil Remissa sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di salah satu kampus di kota Malang.

Dua tahun berselang, Remissa melontarkan album berjudul Tegangan Tinggi yang dirilis lewat label rekaman Srawung Records. Mereka masih bertahan dengan agenda-agenda tersebut. Ibarat sebuah anak, maka sejatinya dengan mudah diketahui kalau dua album mereka itu memiliki riwayat darah yang sama.

Hal itu bisa dideteksi dari beberapa lirik lagu yang sebelumnya menjadi judul materi di album Remissa Manifesto Mimpi. Semisal di lagu “Untuk Mereka” yang merupakan bentuk dukungan Remissa kepada mereka yang tertindas dan haknya dirampas oleh kaum rakus: “Kawan-kawanku punya kisah, yang bagiku terlihat, tampak dan tragis…”

Atau pada lagu “Melesat Jauh” (atau “Biarkan Saja?”) yang merupakan penegasan jika mereka akan tetap berdiri dengan apa yang diyakini: “Biarlah sudah kita hanya bisa berlari menentang dan terus mencari…”

Ya, begitulah Remissa yang pada album ini akan tetap menjadi pemuda dengan karakter pemikiran yang sama bertegangan tinggi dari sebelumnya.

Tidak sungkan melontarkan kemarahan pada penguasa tiran pada lewat lagu “Pola Yang Sama”, “1-“, “Semua Sarannya Hanya Ilusi”, dan “Dengarkan Sekali Lagi”. Tanpa belas kasih mengutuk segala tindakan perusakan lingkungan lewat lagu “Singkat Kata”.

Lantang menyatakan kemuakan terhadap arus informasi media yang hanya menjadi corong untuk memuluskan kepentingan segelintir pihak dengan lagu “Tanpa Disadari”. Serta teguh menyatakan dukungan pada mereka yang berjuang mempertahankan haknya yang dirampas lewat lagu “Untuk Mereka” dan “Ada dan Akan Terus Ada”.

Sampai detik ini apa yang mereka suarakan itu masih relevan dan masuk akal.

Tegangan Tinggi masih mensinergikan emosi pemikiran dengan padatnya distorsi yang digeber sepanjang lagu. Kerap tanpa tedeng aling-aling beberapa materi langsung dibuka dengan pukulan menohok dari departemen vokal, drum, maupun gitar.

Ditambah lagi masuknya Rizkqtsany sebagai gitaris baru memberikan dampak pada musik Remissa di album Tegangan Tinggi yang kini lebih banyak menjajal eksplorasi isian gitarnya. Namun, sayangnya emosi yang sudah terlanjur terbakar itu ternyata memiliki dampak pada musik yang disusun.

Sekitar tujuh lagu pertama Remissa tampak terpancing untuk mengeluarkan seluruh eksplorasi aransemen musiknya. Menaikkan emosi kemudian memadamkannya secara tiba-tiba. Akibatnya, di lagu yang tersisa, emosi yang harusnya semakin membumbung tinggi menjadi terasa hambar dengan aransemen musik yang tiba-tiba mengajak pendengar menuju dimensi berbeda.

Remissa seperti tampak kehabisan ramuan aransemen hingga memilih untuk membuat perbedaan di materi yang tersisa. Akibatnya, di pertengahan album, ekspektasi yang sudah dibangun sejak awal runtuh seketika. Pendengar harus membangun mood mereka kembali dari awal untuk mendengarkan album ini.

Belum lagi keteledoran (atau memang disengaja?) kecil yang semestinya bisa dihindari. Seperti pada pengurutan lagu antara “Berikan Saja” dan “Melesat Jauh” yang sepertinya tertukar.

Ditambah lagi ketidakhadiran lirik lagu “Berikan Saja” pada sleeve cover. Padahal jika merujuk pada liriknya, judul “Berikan Saja” juga bisa digunakan pada lagu “Melesat Jauh”. Maka tak heran jika banyak pendengar akan berpikir, termasuk saya, jika dua lagu ini adalah lagu yang tertukar dari sisi pengurutan atau judul lagu. Juga dari segi kemasan yang harusnya bisa jauh lebih baik.

Proses pendewasaan tentu akan menghasilkan banyak pelajaran untuk modal di masa yang akan datang. Lewat album ini Remissa – yang dibentuk oleh personil dengan latar belakang musik yang beragam – telah membuktikan diri jika potensi yang mereka miliki membukakan jalan lebar bagi Remissa menuju titik yang cerah.

Bukan tidak mungkin kedepannya Remissa akan melakukan banyak hal yang mengejutkan pendengarnya selama ini. Entah itu dalam komposisi musik atau bentuk pencapaian.

Bagaimana pun musik yang Remissa usung, agenda yang mereka bawa dan pesan yang ingin disampaikan kepada pendengar tetap jadi bagian terpentingnya. Sebab cukup sulit menemukan band sejawat yang memiliki keberanian dan konsistensi seperti Remissa – dari segi agenda, pergerakan, hingga pada penggunaan lirik berbahasa Indonesia. (*)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.