Rotor – Behind The 8th Ball

Sampai hari ini, Behind The 8th Ball masih tetap berada di baris depan tentang album thrash metal yang penting di Indonesia.

1
366

Artist : Rotor

Album : Behind The 8th Ball

Label : AIRO, 1992

GeMusik – Album legendaris ini dibuka oleh lagu “Behind The 8th Ball” yang bercerita tentang nasib dan pilihan mereka untuk memainkan musik keras di zamannya. Liriknya menarik. Seperti membaca ‘profil’ singkat Rotor pada awal karirnya. Menuturkan saat mereka mengenal musik thrash metal, memutuskan bikin band di akhir ‘80-an, berkarya tanpa konsep, bersenang-senang, dan bokek, lalu berkarya dengan konsep, lebih serius, dan tetap saja bokek. Ya, betapa sulitnya memainkan musik keras di Indonesia, ketika itu.

Curse of Leak” tentu saja mengangkat budaya Leak di Bali. Tembang ini dibangun dengan komposisi cadas yang terdengar cukup magis dan mistik. Liriknya pun banyak mengumbar kengerian. Jika cermat, ada bagian riff gitar yang mungkin mampu mengingatkan pada Sepultura di album Arise.

Spontanious Live” sepertinya dibikin secara spontan lewat jamming dadakan di dalam studio musik. Hasilnya adalah improvisasi yang terdengar gokil dan agak jahil. Tampaknya ada salah satu personil Rotor yang suka terlambat datang latihan. Itu mungkin yang bikin Jodie (vokalis lama Rotor) lalu menggeram, “Where’s Juda? He’s always late…”

Nuclear is the Solution…?” menggambarkan suasana konflik global di era perang dingin antara Amerika Serikat melawan Uni Soviet. Perseteruan Blok Barat melawan Blok Timur. Juga cekcok antara Arab versus Israel di Timur Tengah. Itu memang zaman di mana perang nuklir menjadi sebuah isu hangat dan ancaman serius, serta kerap menjadi tema populer bagi band-band thrash metal di manapun.

Rotor membuat tembang anti-cop lewat “Pluitphobia” yang memiliki intro legendaris berupa percakapan antara polisi dengan pengendara. Irvan Sembiring dkk merespon cepat kebijakan pemerintah dan kepolisian yang bakal mengesahkan UULLAJR (Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya) di awal tahun 1993. Mereka yakin jika undang-undang tersebut jadi diberlakukan bakal mencekik rakyat dan membuka lahan korupsi yang subur bagi aparat. Sampai-sampai mereka menyebut “Polisi serasa Israel” atau “Rakyat makin melarat”. Kabar baiknya kemudian, akibat protes dari sana-sini, UULLAJR itu akhirnya tidak jadi disahkan oleh pemerintah.

Gatholoco (Sexual Desease)” memiliki komposisi musik yang nyaris sama persis dengan “Pluitphobia” – hingga terasa seperti versi b-side atau alternative version. Bedanya cuma pada tema lagu dan bahasa yang dipakai. Lirik “Gatholoco” berbahasa Jawa, buatan Ali Akbar, yang konon membahas soal penindas dan koruptor.

Irfan Sembiring (vokal/gitar), Judapran (bass) dan Bakar Bufthaim (drum) merekam album Behind The 8th Ball di studio Triple M, Jakarta, dalam waktu kurang dari satu minggu dan hanya menghabiskan biaya lima juta rupiah saja. Sebelum mendapatkan kontrak rekaman, konon Rotor mesti menjalani proses audisi di rumah Setiawan Djody dan membutuhkan ‘restu’ langsung dari para personil Sepultura yang kebetulan berada di sana.

Behind The 8th Ball kerap disebut-sebut sebagai album thrash metal pertama di Indonesia, yang dirilis pada tahun 1992 oleh label rekaman AIRO. Album ini sempat meluap tersedia pada setiap toko-toko kaset di seluruh pelosok Indonesia seharga Rp.4500,-. Album ini juga konon rajin diputar dalam setiap program musik cadas di berbagai stasiun radio swasta – seperti di Mustang (Jakarta), GMR (bandung), Rajawali (Surabaya), atau Senaputra (Malang).

Rotor dikenal sebagai generasi band metal gelombang pertama di Jakarta, yang kabarnya suka nongkrong di Pid Pub dan pelataran Apotik Ratna bersama Suckerhead, Roxx, dan Commotion of Resources (cikal-bakal grup band Getah). Kebetulan, Rotor tepat berada di zaman musik (thrash) metal yang sedang jaya-jayanya. Rotor pun memilih rujukan musikal dari Sepultura, Kreator, Testament, sampai Metallica. Alhasil, mereka mendapat tanggapan yang positif dan penuh antusias dari anak-anak muda.

Seperti banyak album revolusioner yang bagus di tahun-tahun itu, musik masih menjadi medium serta pelampiasan ekspresi yang utama bagi para musisi yang mulai jengah akan kondisi negeri. Tahun 1992-1993 adalah zaman ketika Orde Baru masih bertaring tajam dan rezim Soeharto sedang kuat-kuatnya. Cendana otomatis masih asri dan nyaman. Sementara banyak tekanan dan penindasan di tengah masyarakat. Belum banyak keberanian dan protes yang konkrit, namun apatisme anak muda sudah hampir berada di puncaknya. Sebelum semuanya meledak jelang akhir dekade ‘90-an.

Behind The 8th Ball sempat masuk dalam daftar 20 Album Rock Revolusioner di Indonesia yang dimuat oleh majalah trax|2 edisi Agustus 2004. Album ini kemudian menjadi cetak biru bagi generasi thrasher lokal selanjutnya, dibuktikan dengan rilisnya album kompilasi A Tribute To Rotor (Sebuah Penghorrmatan) pada tahun 2002,” tulis Wendi Putranto dari Rolling Stone Indonesia – yang menempatkan Behind The 8th Ball pada posisi ke-130 dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik.

Sampai hari ini, 25 tahun sudah berlalu, Behind The 8th Ball masih tetap berada di baris depan jika kita musti membicarakan album thrash metal yang penting di Indonesia. Keputusan Rotor yang ngotot memainkan musik ekstrim di dalam industri itu paling tidak sudah membuka jalan bagi generasi-generasi berikutnya.

1 KOMENTAR

  1. Ulasan yang keren. Keberadaan Rotor terendus oleh saya dr Majalah HAI. Begitu album ini rilis, ga pake mikir2 lagi, lgsg saya beli. Setelah didengar, serasa Indonesia punya Sepultura, ketika itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.