Sedikit (Banyak) Tentang Pandawa Lima

Randy Kempel mengulas album yang jadi penanda perpisahan Dewa 19 dengan Ari Lasso – sebelum band itu terjebak pada satu tema besar seputar cinta melulu. Sekaligus mengunjungi momen-momen terakhir Ahmad Dhani yang masih ‘cerdas’ dalam pengkaryaan musik.

0
257

GeMusik – Ahmad Dhani, sebesar dan sengawur apapun mulutnya sekarang, tetaplah Ahmad Dhani. Seorang komposer handal yang mungkin hanya muncul dua puluh hingga tiga puluh tahun sekali – mengamini pendapat Once yang sempat terekam di beberapa media.

Tidak ada yang perlu diragukan dalam pengkaryaannya, terutama pada medio 90-an hingga album kedua bersama Once. Dia pintar ‘mencuri’, mengolah dan membuat referensi musiknya yang luas menjadi sebuah lagu atau komposisi yang seakan itu ‘miliknya’ sendiri. Pun itu semua ditunjang dengan kemampuan instrumental yang mumpuni.

Contoh saja, dalam track “Satu Hati (Kita Semestinya)”, ada break riff yang saya curigai ia curi dari “Metropolis pt.1” milik Dream Theater. Mungkin ini terdengar biasa saja, apalagi untuk penggemar rock progresif, dan bisa saja dia malah kena hujat sebagai ‘penjiplak’. Namun, yang jadi masalah adalah dia membawa riff progresif itu ke ranah musik pop, tema cinta lagi. Itu yang mungkin harus kita apresiasi dari seorang Ahmad Dhani.

Oke, let’s get to the point. Mari membahas Pandawa Lima, album terakhir Dewa 19 bersama Ari Lasso yang dirilis pada tahun 1996 oleh label rekaman Aquarius Musikindo.

1. “Kirana”

Tembang hits dengan lirik super puitis didapuk untuk membuka album ini. Ambience yang dibangun oleh keyboard Dhani yang Pink Floyd-ish ini memang mengesankan perasaan dingin dan gelap – nuansa yang dominan sepanjang album ini. Isian-isian manis dari Andra menambah kesan tersebut. Oh ya, jangan lupa ada solo clean guitar paling soulful sepanjang sejarah musik pop Indonesia di situ. You’ve been warned!

Dan untuk para music nerd, progresi akord dan modulasi pada lagu ini terdengar sangat fresh dan patut untuk ‘dicuri’. Serius!

2. “Aku Disini Untukmu”

Aku Disini Untukmu” yang disetir oleh genjrengan gitar akustik Andra seakan memberikan statemen bahwa lagu cinta Dewa 19 bisa jadi sedingin ini. Di tengah lagu, ada break dengan treatment dinamika yang mengingatkan saya pada “Champagne Supernova” dari Oasis. Oh iya, video klip lagu ini, meski bisa dibilang norak di zaman sekarang, namun ada Tamara Bleszynsky-nya lho. Kalian para generasi post-millenial sebaiknya diam saja kalau tak tahu siapa dia, hehe.

3. “Bunga”

Lagu yang terkesan jadi filler ini menceritakan tentang ‘bunga’, yang saya curigai sebagai simbolisme dari wanita dan kebingungan diri dalam memilih pasangan di masa muda. Lagu ini menyertakan vokal Ahmad Dhani yang notasinya lebih tepat digunakan band-band pop punk kloning Pee Wee Gaskins. Tentu lagu ini bukan favorit para Social Justice Warriors, terutama mas-mas dan mbak mbak so-called feminist itu.

4. “Suara Alam”

Track selanjutnya memberikan kesan hard rock diiringi bassline yang agak funky. Bejat memang Erwin Prasetya ini. Jangan lupa ada solo keyboard Ahmad Dhani – sesuatu yang jarang hadir pada lagu-lagu lain di album Pandawa Lima.

Suara Alam” merupakan lagu favorit saya di album ini. Kemegahan aransemen hingga pertunjukan skill individu para personel Dewa 19 pada lagu ini jelas merupakan salah satu harta karun untuk ‘dicuri’ dan dijadikan referensi – baik untuk didengarkan maupun pengkaryaan.

5. “Sebelum Kau Terlelap”

Lagu paling woles dengan sedikit jazzy meski tetap terkesan dingin. “Sebelum Kau Terlelap” berisi lirik yang multi-interpretatif. Bisa saja ia literally merupakan lagu pengantar tidur, lagu untuk merenungkan kehidupan, atau mungkin lagu cinta terselubung. Who knows? Yang penting harmoni Andra di sepanjang lagu ini benar-benar bisa membuat anda fly, hehe.

6. “Satu Sisi”

Isu ketergantungan personel Dewa 19, terutama Ari Lasso, terhadap obat-obatan terlarang seperti disinggung dalam lagu “Satu Sisi”. Lirik seperti “Akal sehatku mati… / Mautpun membayangi…” ditambah dengan ambience yang dibangun sepanjang lagu jelas memberikan gambaran yang menyuruh saya untuk segera mendengarkan “Comfortably Numb”.

7. “Aspirasi Putih”

Lirik-lirik politis “Aspirasi Putih” jelas hanya bisa dikorelasikan dengan keadaan pada zaman itu, di mana gejolak politik di Indonesia memang sedang panas-panasnya. Sejujurnya, lagu ini adalah satu dari beberapa lagu yang membuat saya percaya bahwa Ahmad Dhani pernah ‘secerdas’ dan ‘seidealis’ itu. Ah iya, Ahmad Dhani pada era tersebut mungkin mencoba menjadi perpaduan antara Soekarno dan John Lennon. Who knows?

Well, kalau sekarang mah, tidak melihat Dhani kena kasus saja sudah alhamdulilah.

8. “Cindi”

Ini lagu yang bisa memiliki banyak interpretasi. Paling mudah, tentu saja mengartikannya sebagai lagu tentang hilangnya kesucian seorang wanita. Problem klasik masyarakat Indonesia yang hampir pasti akan berakhir tidak baik bagi sosok wanita – yang mana merupakan korban – mulai dari dikucilkan, dicap hina atau paling buruk, dikawinkan atas nama ‘kehormatan’ berkedok tanggung jawab. Cukup ironis memang.

Apakah hal itu masih relevan pada konteks hari ini? Mungkin saja. Terutama di daerah-daerah pinggiran yang tidak tahu-menahu tentang Women’s March, hehe.

Di sisi lain, bisa saja kesucian itu sebenarnya hanyalah simbol, dan arti yang lebih besar dari lagu ini adalah tentang berdamai dengan diri sendiri.

9. “Petuah Bijak”

Lagu ini mungkin bisa dibilang sebagai nasihat kepada diri Ari Lasso sendiri. Well, saya membayangkan bagaimana rasanya menyanyikan lirik yang ditujukan untuk dan tentang dirinya sendiri. Ah iya, saya setuju dengan Mas Jaki yang bilang kalau bagian akhir lagu ini agak mirip dengan “Under Pressure”.

Toh, bukan rahasia juga kalau Queen adalah setengah dari Dewa 19, hehe.

10. “Selatan Jakarta”

SWEET HOME ALABAMA! Ah maaf, kali ini saya bisa menebak lagu apa yang kalian curi, hehe. By the way, “Selatan Jakarta” jelas mungkin merupakan sindiran atas hedonisme dan konsumerisme yang terjadi di sekitar kita. Saya pernah bertanya kepada teman-teman saya dari Jakarta tentang “Ada apa sih di Jakarta Selatan?!”

Dan memang sepertinya interpretasi tentang kemapanan di atas cukup make sense.

Untung saja satu dekade kemudian, Efek Rumah Kaca masih membahas isu yang tidak akan pernah usai diperdebatkan ini, saat Dewa 19 turun kasta jadi band cinta-cinta’an.

11. “Kamulah Satu-Satunya”

Saya malas bercerita jika nyatanya kita semua bisa sepakat bahwa lagu ini merupakan lagu cinta terbaik di era Ari Lasso.

Fun Fact: Vokal latar “Uuulalala…” sungguh ikonik dan diulangi lagi pada beberapa lagu Dewa di era Once.

Pada dasarnya, Pandawa Lima dipenuhi nuansa-nuansa ruang kosong yang memberikan aura dingin dan cenderung gelap – bahkan di lagu-lagu yang sedikit ‘riang’ seperti “Bunga” atau “Kamulah Satu-satunya”.

Mungkin saja itu adalah produk mixing dan mastering sendiri. Atau memang itu karena pengaruh patch keyboard Ahmad Dhani yang cenderung ‘bermain di belakang’. By the way, saya setuju kalau Ahmad Dhani mencoba approach ala Rick Wright dari Pink Floyd yang cenderung bermain untuk memberi ‘ruang’ daripada memberikan isian-isian keyboard yang terkesan ‘sibuk’.

Andra dalam album ini juga terlihat meng-update gaya bermain dan sound gitarnya. Dia tidak terlalu sering tampil gahar seperti di album-album sebelumnya. Namun tetap saja dia tampil eksploratif dan mengikuti zaman – kadang crunchy, funky, dan kadang juga super clean. Pun, ketika Dewa 19 butuh suasana ngerock seperti pada “Selatan Jakarta” dan “Suara Alam”, dia tidak pernah gagal untuk membuatnya menjadi lebih ganas.

Saya selalu menganggap Pandawa Lima merupakan album terbaik Dewa 19. Warna Toto yang sangat dominan hingga album Terbaik Terbaik akhirnya sedikit menurun pada album ini. Pun kontribusi setiap personel, terutama pengaruh jazz dari Aksan Sjuman (yang sayangnya harus dikeluarkan) terasa sangat klop dengan bassline Erwin. Seperti mendengarkan Bill Bruford dan Chris Squire, hehe.

Tentu saja, pada sisi lain, Pandawa Lima juga menjadi penanda perpisahan mereka dengan Ari Lasso. Kemudian Dewa 19 perlahan berubah dari band yang mempunyai topik bahasan luas – soal politik, konstruksi sosial, globalisasi, filosofi, hedonisme, hingga alam – menjadi homogen serta terjebak pada satu tema bernama cinta.

Oke, meski kita bisa sepakat bahwa pembahasan cinta pada album-album awal bersama Once memang masih bermakna relatif dalam.

Ah iya, mungkin anda juga sepakat bahwa Pandawa Lima – atau sampai Cintailah Cinta – merupakan momen-momen terakhir Ahmad Dhani bisa ‘secerdas’ itu dalam hal pengkaryaan, dan personality. (*)

Teks oleh Randy Kempel

*Tulisan ini sebelumnya dimuat pada blog Defisit Referensi, dimuat ulang di sini dengan seizin dan persetujuan penulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.