Sisi Gahar Ustadz Jamming

Single kedua Ustadz Jamming kembali melibatkan musisi lintas genre.

0
107
Ustadz Jamming
Personil Ustadz Jamming dari kiri ke kanan : Yukie Arifin, Uchie Wiby, Yuke Sumeru, Yaya Moektio, Edi Kemput, Deddy Lisan

GeMusik – Pertemanan Yukie Arifin Martawijaya dengan almarhum Krisna J Sadrach dipertautkan kembali melalui single kedua Ustadz Jamming, “MenungguMu (Menjadi Alunan Merdu)”. Peluncurannya berlangsung meriah  pada Kamis 2 Agustus 2018 di , peluncurannya berlangsung meriah di Melody Music, Grand Kemang Hotel, Jakarta Selatan. Penggarapannya juga melibatkan Rere (drum – Grassrock), Ahmad Oktaviansyah (bas), Indra Q (keyboard – BIP) yang juga mengerjakan proses mixing dan mastering. Ada pun Didit Saad (gitar) kembali merangkap produser.

Versi asli “MenungguMu (Menjadi Alunan Merdu)”  terdapat pada Simphoni Kehidupan, album terakhir Sucker Head pasca kepergian Krisna J Sadrach. Temanya bercerita tentang pencarian nilai-nilai paling hakiki seorang anak manusia yang tidak tuntas. Point terakhir inilah yang menjadi titik perhatian Yukie ketika diminta untuk mereinterpretasi karya peninggalan sahabatnya tersebut.

Baca Juga: Roy Jeconiah Tentang Sucker Head

“Liriknya menggambarkan seseorang yang tengah melakukan pencarian tapi berhenti di tengah jalan. Itu ‘kan proses hijrah. Tapi nggak tuntas. Gue harus melanjutkan pencarian itu hingga ke titik yang dituju,” kata mantan dosen Sastra Jepang jebolan Unpad ini. Yukie lantas melakukan beberapa perubahan lirik, termasuk memunculkan doa, sebelum interlude. Pembacaan doa serta terjemahannya dilakukan oleh Iday Ismail dan Fianny Agatha.

Yukie Arifin (Pas band)
Yukie Arifin (Pas band)

Proses rekaman single “MenungguMu (Menjadi Alunan Merdu)” sempat tertunda cukup lama dikarenakan kesibukan Yukie baik sebagai frontman Pas Band mau pun kegiatan syiar. Aransemen yang belum diisi suara bas dan drum adalah kendala lain yang harus ditaklukannya. Ia mengaku kesulitan saat hendak melakukan pencarian beat. Didit memberi umpan dengan  petikan gitar bernuansa psychedelic, sementara gaya bernyanyi mengambang bukan karakternya. Namun kemudian berbagai kesulitan teknis di atas berhasil diselesaikan.

Baca Juga: Perempuan Dalam Pusaran Karir Pas Band

Basic lagunya sangat gelap, baik musik mau pun liriknya.”

Dalam menjalankan misi syiar melalui medium musik, Ustadz Jamming membebaskan diri dari keterikatan bentuk yang sudah ada. Jika “Hingga Waktu” dikemas dalam sajian pop melodius, maka  “MenungguMu (Menjadi Alunan Merdu)”  lebih menampilkan nuansa kelam untuk memberi aksen sebuah upaya pencarian dari hitam ke putih. Permainan distorsi Didit Saad sangat berhasil menggambarkan kegeleisahan tersebut.

Baca Juga: Syiar Ustadz Jamming

Pada Jumat malam lalu, Yukie Arifin bergabung dengan personil Ustadz Jamming seperti Deddy Lisan (vokal – Andra & The Backbone), Uchi Wiby (vokal), Edi Kemput (gitar – Grassrock), Adnil Faisal (gitar) dan Yaya Moektio (drum – Cockpit) yang tidak lain adalah musisi single pertama, “Hingga Waktu”. Inilah pemunculan perdana Ustadz Jamming di hadapan publik dan sejumlah wartawan. Alunan lafaz sholawat yang mengentak dalam balutan irama rock segera membuatnya berbeda dari acara pengajian biasa namun tetap terdengar kontempaltif.

“Mari kita budayakan membaca sholawat supaya masalah bangsa ini terselesaikan,” begitu kata Yaya Moektio.

Yuke Sumeru yang khusus diundang untuk membedah kandungan dalam lirik “Hingga Waktu” dan “MenungguMu (Menjadi Alunan Merdu)” melengkapi kajiannya dengan membuat semacam klarifikasi atas kontroversi tentang haram tidaknya bermain musik yang belakangan merebak tajam di tengah masyarakat. Melalui paparannya yang segar dalam  bahasa kekinian, pengunjung segera dibawa pada kesadaran bahwa silang sengkarut itu lebih ditentukan oleh tingkat pemahaman masing-masing individu.

Baca Juga: Ketika Yukie Memburu “Cahaya”

Usai memberi tausyiah, mantan personil G’Brill dan Hydro tersebut lantas mengeluarkan bas fretless yang pernah dipendamnya selama 12 tahun. Instrumen merek Ibanez ini pernah mengantarkan sosoknya sebagai salah satu maskot bassis Indonesia paling berbahaya.  Ada pun Indra Q yang terlibat dalam penggarapan dua single Ustadz Jamming, malam itu memilih sebagai musisi pembuka. Tampil sendirian, Indra Q musik metafakta yang konon mampu membersihkan udara. Menurut mantan keyboardis Slank ini, musik metafakta pertama kali ditemukan oleh Muhammad Subki dari Jombang. Tertarik mendalaminya, Indra Q bolak-balik Jombang- Jakarta dalam dua tahun terakhir. Tapi,”Gua udah melakukan pencarian tentang jenis musik ini sejak masih di Slank.”

Debut Ustadz Jamming sekaligus menjadi bagian dari Road to International Indie Music Festival (IIMF), perhelatan yang akan melibatkan musisi dari 30 negara dan berlangsung di ICE BSD City. Pihak Deteksi Production sebagai penyelenggara memberi mereka kehormatan pada pesta pembukaan pada 27 September 2018. Sebelumnya, pada 20 Agustus 2018 kelompok tersebut juga dijadwalkan tampil mengisi Asian Games Festival(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.