Sisi Lain Konser 35th Slank

Persiapan konser yang menyimpan cerita panjang dan berliku. Mulai optimisme, perasaan tegang, hingga puluhan Slankers yang menyerbu backstage.

0
77
Slank: Berkarir 35 tahun dan tetap rock & roll. - Foto oleh Adi Wirantoko.

Gemusik Medley “Terlalu Manis” – “Bang Bang Tut” yang diaransemen secara apik oleh Tohpati Orchestra membuka ledakan kembang api tepat pukul 20.30 WIB (23/12/2018). Percikan sinarnya semburat menerangi langit Gelora Bung Karno. Puluhan ribu penonton pun serentak hiteris memanggil-manggil nama Slank.

Ilustrasi di atas mengawali selebrasi ulang tahun Slank ke-35. Sebuah tradisi yang dimulai sejak tahun 1992 oleh band asal jalan Potlot, Jakarta Selatan, tersebut. Tahun ini penyelenggaraannya dilaksanakan oleh POS Entertainment. Dhani Pette, pendiri production house dan artist management tersebut, telah bertekad untuk menyajikan suguhan yang berbeda. Persiapannya berlangsung sejak sekitar enam bulan lalu. Melalui benderanya, ia merangkul 3 Dimensi Stage Production (panggung) dan Thunder (tata lampu).

Meski dipersiapkan secara matang selama berbulan-bulan, namun ide menggelar perayaan ulang tahun Slank nyaris tanpa sengaja. Suatu hari saya mampir ke markas POS Entertainment, sekadar untuk kangen-kangenan. Saya berkawan akrab dengannya sejak masih menjadi Editor Musik majalah Hai. Oleh karena itu perbincangan tidak beranjak jauh dari seputar perkembangan mutakhir industri musik. Akan tetapi topik mulai mengerucut pada wacana kerja bareng menampilkan pertunjukan musik di penghujung tahun. Saya lantas teringat pada teman-teman Slank yang setiap bulan Desember memperingati hari kelahirannya dengan menggelar konser yang dapat diakses oleh masyarakat luas.

Konser yang memanjakan mata dan telinga. – Foto oleh Adi Wirantoko

Pada ‘kopdar’ berikutnya kami mengundang Ahmad Ramadhani (nama panggungnya sih, Bang Denny), manajer Slank yang segera menyambut dengan antusias. Dan pada suatu sore yang cerah, kopi hitam pun terasa nikmat setelah Bimbim menyatakan kesediaannya. Artinya, peluang semakin terbuka. Bimbim bahkan mengusulkan ‘Damai Indonesiaku’ sebagai tema ulang tahunnya kali ini. Inspirasinya diperoleh setelah linimasa media sosial hampir setiap hari selalu dijejali oleh pertentangan pihak-pihak tertentu dalam konteks politik.

Tidak lama, tema di atas kemudian diganti menjadi ‘Indonesia Now’, mengacu pada single Slank yang dirilis pada 5 Agustus 2018. Liriknya bercerita tentang fenomena digital. Point inilah yang kemudian mendasari penjualan tiket melalui sistem online, hal yang sebenarnya lumrah di dunia pertunjukan tetapi tidak begitu dengan Slankers.

“Slankers itu terbiasa membeli tiket secara manual, langsung,” begitu Bang Denny mengingatkan. Artinya, pihak POS Entertainment harus menyiapkan tenaga ekstra jika sistem online sungguh-sungguh dilakukan. Dhani Pette melihat migrasi tersebut merupakan bagian dari proses edukasi bagi Slankers. “Ulang tahun Slank kali ini harus tampil beda. Mungkin bukan yang terbesar tetapi harus fenomenal dan akan diingat orang sepanjang masa,” katanya bersemangat.

Sistha Anindya (saxophone), salah satu dari sembilam musisi milenial yang bertaburan pada konser 35th Slank- Indonesia Now. – Foto oleh Adi Wirantoko.

Stadion Gelora Bung Karno (GBK) memang sudah diperhitungkan sejak awal sebagai venue yang dapat menampung segala bentuk gagasan kreatif, termasuk menghadirkan panggung berukuran 40 m X 23 m. Ada pun latar belakang sayap raksasa yang dapat mengepak melalui mesin hidrolik itu dikembangkan dari logo Slank yang berbentuk kupu-kupu. Tema Indonesia Now juga menjadi trigger dalam menyeleksi musisi pendukung. Siapa pun pilihannya haruslah mereka yang mampu menghadirkan nuansa kekinian.

Akhirnya kami menetapkan sembilan nama : Eva Celia (vokal), Marion Jola (vokal), Evelyn Huagalung (penyanyi latar), Meliata Kasiman (penyanyi latar), Rani Ramadhani (drum), Tiwi Shakhachi (keyboard, akordeon), Christabel Annora (piano), Sistha Anindya (saksofon) dan Aurelie Moeremans (ukulele).

Menyiapkan konser sebuah band dengan jadwal manggung ketat membutuhkan tingkat kesabaran tertentu. Saat itu Slank memiliki kontrak bermain di 32 kota di tanah air. Pulang ke Jakarta hanya sesekali. Ini berimbas pada sulitnya mengatur pertemuan. Padahal tidak semua persoalan kreatif dapat diselesaikan secara virtual. Terbukti jadwal pemotretan untuk media promosi, misalnya, berulang kali mengalami perubahan.

Saya pernah ‘mencegat’ Bimbim di kompleks TVRI untuk membahas penggunaan logo event. Ini dikarenakan oleh keterbatan waktu mereka di Jakarta. Saat itu Slank muncul di TVRI dalam rangka konser penggalangan dana untuk korban bencana Palu dan Donggala. Dari kreasi Bimbim-lah munculnya logo 35th Slank – Indonesia Now yang berwarna merah itu.

Bimbim: Sang motor penggerak Slank – Foto oleh Adi Wirantoko.

Sekali waktu saya dan Dhani Pette janjian dengan Ridho Hafiedz dan Ivanka untuk membahas gimmick. Musim hujan menyebabkan Jakarta dikepung banjir. “Jalur gue dibuang nih, lagi cari jalan alternatif. Telat sedikit gak apa-apa ya,” kata Ridho melalui sambungan seluler.

Akhirnya kami bertemu di Queen Head, daerah Kemang Raya, guna mematangkan persiapan panggung. Namun pembahasan baru saja berlangsung beberapa saat tiba-tiba terdengar dengkuran di samping saya. Rupanya saking kelelahan Ivanka tertidur pulas di atas sofa. Keesokan harinya dia menghubungi via selular: “Sorry kemarin bro, gue capek banget.” Cuma untuk bilang itu, hahaha!

Untuk 35th Slank – Indonesia Now, band rock n’ roll tersebut menyiapkan tidak kurang dari 32 lagu dengan durasi pertunjukan tiga jam. Urutan repertoar beberapa kali mengalami perubahan yang menyebabkan pihak POS Entertainmen dan NET TV sebagai official TV harus melakukan sejumlah penyesuaian. Kami memaknai hal ini sebagai bentuk keseriusan teman-teman Slank dalam menghadapi hajatan di GBK. Salut bahwa di tengah kesibukan manggung di berbagai kota, mereka tetap berkonsentrasi penuh. Terjun langsung dalam membuat rancangan skenario pertunjukan.

Slank memiliki puluhan bahkan ratusan ribu penggemar militan yang tersebar di seantero nusantara. Untuk dapat menyaksikan idolanya beraksi di atas panggung, seorang Slankers bersedia menempuh berbagai cara.

Lihat saja, Jumat pagi (21/12), menjelang dua hari pertunjukan, Slankers mulai berdatangan di sekitar GBK. Indikasi ini terlihat dari berbagai atribut bendera yang diikat pada pagar besi yang mengelilingi GBK. Salah satunya berasal dari Grobogan, Jawa Tengah. Keletihan setelah menempuh perjalanan jauh tidak menghilangkan keceriaan bahwa mereka bakal menjadi bagian dari saksi sejarah. Pada Sabtu siang, jumlahnya semakin bertambah dengan bergabungnya Slankers dari kota-kota lain.

Menjelang dimulai 35th Slank – Indonesia Now, raut muka Reza Lesmana terlihat tegang. Production Manager yang bertanggung atas seluruh persoalan teknis itu dibuat deg-degan apakah sayap burung raksasa tadi dapat mengepak pada saatnya nanti. Syukurlah kekhawatirannya tidak terbukti. Menurutnya, panggung yang dihadirkan oleh POS Entertainment ini merupakan salah satu yang terbesar yang pernah digunakan oleh band lokal.

“Konser 35th Slank- Indonesia Now ini patut dicatat dalam sejarah pertunjukan musik di Indoensia,” kata keponakan Adhi Sibolangit, mantan pemetik bas Giant Step, tersebut.

Pemotongan kue ulang tahun di VVIP Room Gelora Bung Karno. – Foto oleh Adi Wirantoko.

Dengan tata suara berkekuatan 100.000 watts dan tata lampu 400.000 watts, 35th Slank- Indonesia Now sangat memanjakan mata dan telinga penonton. Getarannya dapat dirasakan hingga ke bangku penonton di tribun paling belakang. Sambutan gegap gempita berlangsung sepanjang pertunjukan.

Sementara itu di tengah kemeriahan dan suasana hiruk-pikuk, kepanikan terjadi di belakang panggung. Asthie Wendra, Supervisor of Programs Running, dikejutkan oleh berhamburannya puluhan Slankers menyerbu backstage. Dengan bantuan asistennya, Yunike dan Irna Nurul, ia berusaha menggiring mereka untuk menjauh sementara pada saat yang fokus perhatiannya tetap diarahkan ke atas panggung. Bagaimana tamu tak diundang itu bisa menyelusup ke ke belakang panggung? Cewek berkacamata dari Show Management tersebut menduga mereka adalah penonton dari tribun yang berusaha memasuki kelas festival namun kesasar. “Tapi tetap aja bikin sport jantung,” katanya sembari ngakak seusai pertunjukan.

Hingga berakhir pukul 23.30 WIB, ketertiban konser 35th Slank- Indonesia Now relatif terjaga. Kecemasan akan terjadinya kerusuhan tidak terbukti. Penonton dengan tertib meninggalkan Gelora Bung Karno. Dhani Pette beserta tim POS Entertaiment-nya harus mendapat acungan jempol karena telah bekerja siang malam mengejar tenggat waktu.

Senang rasanya menjadi bagian dari acara besar ini. Kepuasan terutama lahir oleh dimensi waktu. Saya sudah meliput konser Slank sejak band mereka masih bernama Cikini Stones Complex, lalu mulai mewawancarai langsung ketika debut album Suit-Suit He he … Gadis Sexy dirilis pada 1990. Saat itu tubuh Bimbim dan teman-temannya rata-rata masih kerempeng. Berbagai peristiwa mewarnai perjalanan waktu. Terjerumus ke lembah narkoba, dilanda badai perpecahan, bangkit dari keterpurukan hingga kini menjadi legenda musik.

Slank kini bukan lagi sekedar grup musik, namun sudah menjelma menjadi sebuah paham ideologi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.