Slank 35 Tahun: From Zero To Hero

Tepat pada tanggal 26 Desember 2018, Slank berusia 35 Tahun. Kami sajikan kembali feature panjang dan berseri yang pernah ditulis Denny MR soal riwayat salah satu band rock terbesar di Indonesia itu.

1
85
Slank: 35 Tahun - Foto dok. Pose Entertainment.

Sengatan terik matahari siang Jakarta meruap di seputaran daerah Duren Tiga, tepatnya di jalan Potlot III No 14. Saat itu, tahun 1990, tengah berlangsung wawancara dengan Slank yang baru saja merilis debut album Suit-Suit He-He (Gadis Sexy). Bimbim, Pay dan Bongky duduk mengitari meja kecil berlantaikan tanah. Ada beberapa gelas kopi. Asbak belumlah penuh puntung rokok namun abunya sudah berserakan ke mana-mana. Indra Qadarsih terlihat mondar-mandir. Kadang nimbrung ikutan nyeletuk. Sesekali duduk di balik set drum, gedebak-gedebuk sembari bertelanjang dada, lalu nimbrung lagi setelah tubuh bercucuran keringat. Saat itu studio tempat latihan belum berperedam. Suara bisingnya dengan mudah bocor ke rumah tetangga. Sementara itu Kaka tak kunjung menampakan diri sekali pun Bimbim sudah berulang kali memanggilnya. Kemana dia?

Baca kisah selengkapnya di bagian pertama ini.

Beberapa hari setelah berita perpecahan Slank menjadi cover story di majalah Hai,giliran Bimbim, Kaka dan Bunda Iffet datang ke kantor saya untuk memberikan klarifikasi yang tentu saja berbeda dengan pernyataan Pay, Indra dan Bongky. Mana yang benar nggak begitu penting, karena kedua belah pihak pastilah memiliki alasan sendiri-sendiri.  Saya tak ingin masuk terlalu jauh ke wilayah itu. Yang pasti, berakhinya pertemanan di antara mereka amat disesalkan. Para Slankers kecewa dan marah, tentu bisa dipahami. Namun bagi saya kebersamaan dengan formasi ini menyisakan momen yang tidak terlupakan.

Baca kisah selengkapnya di bagian kedua ini.

Formasi Slank dari masa ke masa – oleh Wendy / Denny MR / GeMusik

Ganja beredar dari satu tangan ke tangan lain di lingkungan Markas Slank. Untuk memutus mata rantai dengan bandar narkoba yang berkeliaran dengan bebas, Bunda Iffet lantas membangun pagar lengkap dengan pintu gerbang. Slankers pun tak lagi leluasa keluar masuk menemui idola mereka.

“Tahu bahwa di depan rumah dipasangin pagar, anak saya [Bimbim] mengamuk. Tapi Bunda biarin saja. Harus tega kalau menginginkan dia sembuh,” cerita Bunda lirih. Demi menyelamatkan Slank dari kehancuran, ia terpaksa meninggalkan kesibukannya sebagai Ketua Organisasi Tanaman se-DKI dan sepenuhnya mencurahkan perhatian membentengi Bimbim dan Kaka dari rongrongan bandar.

Baca kisah selengkapnya di bagian ketiga ini.

Di setiap keberhasilan selalu ada harga yang harus dibayar. Kadang harganya bahkan terlalu mahal karena itu berindikasi pada hilangnya kebebasan. Sukses kemunculannya sebagai band rock and roll yang membawa suara dari jalanan secara tanpa disadari mulai mereduksi ruang gerak mereka. Bagi musisi yang sebagian karyanya bertolak dari pengamatan lingkungan sosial dan politik hal ini jelas sebuah petaka.

“Memang gue akui kebebasan sudah hilang setelah album Kampungan. Gue gak bisa lagi nongkrong-nongkrong, udah kelihatan orang. Jadi, sources rasanya rada berat,” ungkap Kaka.

Baca kisah selengkapnya di bagian keempat ini.

Kesibukan masing-masing menyebabkan frekuensi pertemuan kami semakin berkurang, terutama pasca terbentuknya formasi terakhir. Tur demi tur ditambah pembuatan album, Slank secara rutin merilis setiap tahun, sepertinya telah mengepung keseharian mereka. Saya tetap mengikuti kegiatannya melalui berbagai pemberitaan cetak, elektronik maupun online. Sesekali saja bertukar kabar dengan para personelnya, termasuk dengan dua eksponennya: Rustam dan Oppie Andaresta.  Waktu, usia dan popularitas tidak mengubah karakter mereka. Tetap rock and roll, spontan dan selalu muncul celetukan segar.

Baca kisah selengkapnya di bagian kelima ini.

Dirgahayu Slank yang ke-35. Semoga tetap menginspirasi dan rock n’ roll!

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.