Suara Kesederhanaan Anak-Anak dalam Nyanyian Anak Bintang

Nyanyian Anak Bintang adalah karya yang menggairahkan dan sekaligus di dalamnya terdapat nada-nada yang lerem.

0
122
nyanyian anak bintang

“Hanya anak-anak yang tahu ke mana mereka pergi dan apa yang mereka cari” ucap sang penjaga rel kereta api dalam buku The Little Prince. Dalam beberapa adegan tokoh sang pangeran kerap berucap bahwa “…orang-orang dewasa itu aneh”, karena sering tidak mengerti apa yang dia maksudkan. Karangan Antoine de Saint-Exupéry itu seolah-olah ingin mengatakan kepada kita bahwa selama ini kita telah lupa akan kebenaran nan sederhana, kebenaran yang sering dilupakan oleh manusia seiring bertambah dewasanya mereka.

Berangkat dari kesederhanaan itulah saya mendengarkan lantunan adik-adik Rumah Bintang ini, pun dengan itu saya mencoba menyambungkan kenangan-kenangan masa kecil dan masa sekarang. Bagaimanapun juga lagu-lagu yang dinyanyikan oleh adik-adik Rumah Bintang ini membuat saya lebih rindu akan indahnya masa kanak-kanak. Gemas. Tak ayal kalau mereka bernyanyi di hadapan saya, pasti saya akan cubitin pipi mereka sembari memeluknya.

“Hanya anak-anak yang ketika hujan sedang turun dengan derasnya menempelkan hidung mereka ke tepi jendela sembari melihat kapalnya yang terbuat dari kertas, basah diterpa hujan. Berlarian di lapang dengan telanjang. Menjadi pahlawan dengan menjadi Hulk. Dan belajar tentang kesepian. Namun sekali lagi tak semua anak beruntung…”

Nyanyian Anak Bintang adalah karya yang menggairahkan dan sekaligus di dalamnya terdapat nada-nada yang lerem. Saya pun mencoba untuk sedikit lebih berani menyandingkannya dengan Richard Wagner yang sempat dipuji-puji Nietszche itu. Mengiyakan sekaligus menidaki. Tengok saja di lagu “Macet”. Bukan hanya sekedar “I Was A Teenage Anarchist”-nya Against Me!, akan tetapi dibalut “Lampu Merah”-nya Benyamin Sueb. Menarik bukan?!

Anak-anak yang masih beruntung mendengarkan keciap burung, deritan bambu, dan gemericik air. Anak-anak yang tahu berterimakasih kepada petani. Selalu ingat bahwa “esok makan nasi lagi … dan lagi…” sebagai bentuk kesederhanaan yang akan ditemukan dalam lagu “Petani”. Cukup berterimakasih bukankah mudah? Seketika saya mengingat kenangan masa kecil bermain di sawah, mengejar burung bangau dan kuntul yang mulai mencari makan. Dan saya kagum dengan adik-adik ini yang sudah belajar dari para petani, guru yang patut dicontoh. “Pancèn luhur bebudèné pak tani, kena kanggo patuladhan…”, kalau kata Koes Plus dalam lagunya “Pak Tani”.

Kesederhaan juga terdapat di lagu-lagu “Papua”, “Burung & Ikan”, “Pelangi”, dan lagu-lagu lainnya. Kejujuran anak kecil yang kadang dirindukan oleh orang-orang dewasa. Karena akan berbeda membahasakan tentang sekolah, hutan, dan kemacetan antara orang-orang dewasa dengan anak-anak. Menyanyikan suatu lagu dengan indah dan menyanyikan suatu lagu yang indah adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Hal itu jualah yang menjadikan Nyanyian Anak Bintang dapat dilihat dari banyak perspektif. Sehingga karya ini dapat menjadi manifestasi sempurna dari ide dalam sebuah obyek individual.

Tentang hutan-hutan yang menjadi gundul, toh anak-anak tidak perlu berujar tentang Arna Næss sebagai kritik, ataupun Fritjof Capra. Bukan maksud merendahkan dunia anak, karena ya begitulah dunia anak. Tanpa ada membutuhkan justifikasi logika transendental ala Kant dengan 12 kategorinya ataupun roh absolutnya Hegel.

Yang terakhir, mengingat lagu anak yang sudah semakin jarang di era vlog yang berjubel ini, setidaknya menambah energi tersendiri bagi orang-orang yang gampang pesimis seperti saya ini untuk tetap mempunyai harapan. Nyanyian Anak Bintang tidak hanya diperuntukkan untuk anak-anak, melainkan untuk orang dewasa juga perlu mendengarkan lagu-lagu di dalamnya.

*Ditulis oleh Choirul Muttaqin. Tentang album Nyanyian Anak Bintang bisa dicek di sini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here