Suatu Malam Di Kelas Srawung

Berbagi kisah dan pengalaman dalam kelas rock n’ roll yang digelar pada sebuah kedai kopi.

0
169
Felix Dass tampak sedang menyusun setlist - Sumber Facebook Felix Dass

I tell you folks
It’s harder than it looks
It’s a long way to the top
If you wanna rock ‘n’ roll *

Pada tahun 2015, ia memutuskan keluar dari perusahaan multi nasional dan memilih untuk hidup serta menghidupi scene musik sidestream. Pria ini adalah Felix Dass. Seorang pegiat, manajer, pelancong, penonton, pengamat, jurnalis dan penulis. Semua kegiatannya memiliki satu benang merah, yakni musik.

Felix Dass adalah pria yang konsisten, berkomitmen, berdedikasi tinggi dan ambisius. Pria domisili Jakarta dan sempat pindah ke Bandung ini adalah salah satu orang yang ingin melihat scene sidestream atau lebih akrab dikenal scene independen mendapat kedudukan layak di kancah musik Indonesia. Atau lebih tepatnya; bisa terus hidup dan menghidupi.

Selama ini, Felix adalah inisiator acara musik seperti Cikini Folk Festival, Future Folk di IFI, dan Bermain di Cikini. Selain itu, Felix juga dikenal sebagai pengamat musik yang rajin mendokumentasikan segala hal dalam bentuk tulisan. Tulisannya tersebar di berbagai media, sebut saja: Ripple, The Jakarta Post, Jakartabeat, Hai, dan Qubicle. Tentu saja termasuk juga di blog pribadinya.

Selain aktif menyelenggarakan acara dan mendokumentasikan musik lewat tulisan, Felix juga seorang manajer band. Saat ini ia menangani duo folk, Arireda, yang baru saja melakoni tur bertajuk Menunggu Kemarau. Felix juga kerap dipercaya menjadi narasumber atau pembicara diskusi di berbagai acara.

Seperti malam itu, 23 November 2017, di mana Felix Dass dipercaya untuk mengisi Kelas Srawung di Warung Srawung, Malang, untuk membahas topik Musik dan Showbiz.

Selamat Datang di Kelas Srawung
Ruang tengah Warung Srawung nampak telah ditata rapi. Beberapa meja dibentuk dalam posisi persegi empat tepat di bawah sorotan lampu berwarna kuning. Hanya di “venue” itu lampu menyala terang, sudut lainnya sengaja dimatikan atau dibuat redup. Jika diingat-ingat, lumayan menakutkan juga. Seperti ada konferensi akbar perwakilan seluruh negara yang akan membahas perbaikan dunia yang sedang dalam kondisi sekarat.

Pukul tujuh malam acara diskusi dimulai. Jika melihat atmosfirnya, mungkin lebih tepatnya dibilang sesi cangkrukan atau srawung ketimbang diskusi. Acara dibuka dengan sambutan dari Lukman, selaku perwakilan Warung Srawung. Malam itu sang pemilik Warung Srawung, Iksan Skuter, sedang ada “panggilan” tampil di salah satu kampus di kota Malang. Jadi malam itu beliau terpaksa harus titip absen.

Felix memulai dengan kisah pengalaman dirinya ketika pertama kali terjerumus di lembah industri musik. “Awalnya saya kerja di majalah Hai dan meliput band-nya Arian13 ketika ia masih bersama Puppen,” katanya. “Rasanya seneng banget. Seorang penulis yang masih baru bisa meliput Puppen.”

Malam itu Felix yang tampil santai – hanya memakai kaos, celana pendek dan sepatu boots – nampak begitu antusias menceritakan perjalanan karirnya selama mengarungi industri musik. Ia juga tidak segan berbicara blak-blakan soal latar belakang dirinya dan bagaimana kondisi industri musik di Indonesia kepada mereka yang nongkrong di Kelas Srawung, malam itu.

“Ijazah SMA saya sudah hilang, jadi bisa dibilang status pendidikan terakhir saya sekarang adalah tamatan SMP…” ujarnya diikuti dengan tawa terbahak. “Jujur saya merindukan suasana seperti ini [Kelas Srawung]. Karena dari suasana seperti inilah biasanya muncul ide-ide kreatif yang tidak terduga. Dan ini yang sulit ditemui di Jakarta,” lanjut Felix yang menyebut suasana seperti itu dengan istilah cangkeman.

Felix lalu menceritakan pengalamannya saat bekerja pada salah satu pionir label independen asal kota Bandung, FFWD. Di sanalah ia mengaku banyak belajar dan menggali ilmu – mulai dari cara bagaimana label rekaman itu berjalan, mengorganisir acara, memanajeri band, hingga mengakomodinir tur. Ketika bekerja di FFWD, Felix juga sempat memanajeri band indie-pop bernama Ballads of Cliché.

Indie Hari Ini
Ari Malibu, pasangan bermusik Reda Gaudiamo dalam AriReda, nampak sedang santai mengobrol di pelataran Warung Srawung. Orang-orang juga masih berdatangan. Tempat nongkrong yang tadinya terlihat agak kosong kini seluruh kursinya sudah berpenghuni. Malam kian hangat dan Felix masih melanjutkan ceritanya…

“Sekarang ini adalah masanya scene musik independen mulai dipandang di Indonesia,” ujar Felix dengan menggebu. “Kita sekarang bisa nyari band raksasa dari scene independen yang income-nya pertahun bisa sampai tiga miliar rupiah!”

Orang-orang melongo. Seperti tidak yakin mendengar pernyataan Felix barusan.

Felix kemudian melontarkan satu pertanyaaan kepada seluruh orang yang hadir di Kelas Srawung, “Band-band besar seperti Gigi masih sering main di sini?”, teman-teman diam sejenak, lalu menjawab, “Kadang-kadang masih kok…”

“Nah khan, sekarang yang berstatus ‘kadang’ malah mereka [merujuk pada band-band raksasa terbitan major label],” ucapnya santai diikuti tawa dari audiens semua.

Memang ada benarnya apa yang dikatakan Felix. Band-band yang dimaksud sebagai “raksasa” saat ini seperti Seringai, Mocca, Efek Rumah Kaca, White Shoes and The Couples Company, Burgerkill, Sore, dan masih banyak lainnya. Mereka sudah memiliki jam terbang tinggi dan lebih mudah dijumpai dalam acara-acara berskala besar saat ini.

Ruangan terasa makin hangat, asap rokok mengepul di langit-langit. Suguhan cemilan dari Warung Srawung datang dan membuat suasana kian santai. Felix sedang menceritakan pengalamannya menonton konser di luar negeri. Ia lalu membandingkan cara kerja konser di luar negeri dengan di Indonesia – yang juga membuat dirinya terinspirasi untuk mengorganisir acara, salah satunya seperti Cikini Folk Festival.

“Saya ini cuma fans yang suka membuat acara, memang bukan event organizer,” katanya. Felix mengaku jika beberapa acara di Indonesia suka terkesan tidak efisien, atau malah menyusahkan penontonnya. Ribet.

“Saya pernah mau ngajak pacar nonton acara, tapi untuk dapetin tiketnya musti pakai email, yang satu tiket hanya bisa dipesan dengan satu email,” ujarnya dengan suara lirih. “Kemudian saya suruh pacar saya untuk memesan tiketnya sendiri lewat email. Eh, dia ngejawab, ‘Kamu ini mau ngajak aku nonton tapi kok jadi aku sendiri yang disuruh pesen tiket?…’”

Sejak kejadian tersebut, Felix menganggap hal-hal seperti itulah yang mengurangi esensi acara musik – yang awalnya bertujuan untuk bersenang-senang menjadi penuh dengan keribetan.

Setelah bercerita panjang mengenai pengalamannya, sesi tanya-jawab pun dimulai. Satu persatu yang hadir di Kelas Srawung melontarkan pertanyaan. Mulai dari bagaimana cara menjaga idealisme sebuah band, tips membuat press release, cara kerja publisis dalam sebuah band, mengulas review musik, attitude para pelaku musik, hingga menggunjingkan keberadaan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Kapal Tempur versus Kapal Dagang
“Tidak semuanya melulu hanya mengenai transaksional!” tegas Felix. Menurutnya, musisi di scene independen harus tahu kapan musti menjadi “Kapal Tempur” atau “Kapal Dagang”, mengutip seperti yang dikatakan Iksan Skuter sebelum kelas dimulai.

Awalnya audiens nampak mengerutkan dahi dengan dua perumpamaan yang asing itu. Namun seiring berjalannya obrolan, barulah mereka mulai memahami apa yang dimaksud dengan “Kapal Tempur” dan “Kapal Dagang”.

“Bersama Arireda, ada kalanya kami tidak selalu berbicara soal transaksional,” jelas Felix. “Kami pernah hanya dibayar tiga juta, atau bahkan gratis kok…”

Felix mengaku pernah bersedia tampil dengan bayaran yang minim bahkan sungguh mepet untuk biaya akomodasi Arireda. Tapi, menurutnya ada hal yang lebih menarik ketimbang hanya urusan transaksional, yaitu tantangan untuk bermain di tempat atau kota yang tidak terduga atau tidak pernah mereka kunjungi sebelumnya. Itu menjadi sebuah hasrat tersendiri untuk mencari pengalaman dan petualangan baru.

Felix lalu menceritakan pengalamannya sewaktu Arireda bersedia manggung di daerah yang jauh dan belum pernah mereka kunjungi sebelumnya. “Waktu itu penontonya hanya sekitar 20 orang,” kisahnya. Namun tidak disangka dari segelintir penonton tersebut ternyata ada beberapa orang yang kemudian menghubungi Arireda untuk bermain di sebuah festival musik di daerah sana.

“Hal-hal tidak terduga seperti itu yang selalu menyenangkan. Mungkin kita tidak akan pernah bisa bermain dalam festival musik di daerah tersebut jika sejak awal kami menolak untuk manggung di sana hanya karena alasan transaksional…” katanya sambil tertawa puas. “Jadi ada saatnya kita menjadi ‘Kapal Tempur’. Hajar saja!”

Felix juga bercerita, “Ada tuh band yang masih baru tapi belum-belum mikirnya udah duit aja. Padahal acaranya bisa menjadi jembatan yang bagus buat karirnya,” katanya sembari merahasiakan identitas band yang dimaksud. “Setelah batal karena ketidaksepakatan urusan transaksional, band itu malah gak pernah muncul lagi sampai sekarang…”

Menanggapi pertanyaan soal mempertahankan idealisme sebuah band yang dicap pengkhianat karena masuk label rekaman besar (baca: major label), Felix menjelaskan sejatinya idealisme itu tidak memiliki pakem atau tidak baku, alias bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi yang sedang dihadapi. Namun yang perlu diingat, katanya, adalah tidak boleh lupa dari mana kita berasal.

Felix lalu mencontohkan beberapa band yang ia kenal, “Mungkin banyak yang tidak tahu jika band-band sekaliber Superman Is Dead atau Seringai sampai sekarang masih kerap bermain dalam gigs atau bar-bar kecil di Bali dan Jakarta,” katanya. Pernyataan tersebut menyiratkan jika di balik nama besar dan kesuksesan yang telah diraih Superman Is Dead dan Seringai ternyata tidak serta-merta membuat mereka lupa dengan scene yang telah membesarkan nama mereka.

Malam itu, Felix sungguh dermawan ilmu dengan selalu menjawab pertanyaan secara panjang dan rinci berdasarkan pengalamannya dalam industri musik dan scene independen.

Untuk pertanyaan mengenai keberadaan Badan Ekonomi Kreatif, jawaban Felix sepertinya sudah cukup diwakili dengan pernyataan singkatnya, “Teruslah berkarya, jangan berharap pada negara.”

“Kalian musti bersyukur hidup di kota Malang yang terus tumbuh dan berkembang. Karena menikmati proses seperti inilah yang sejatinya paling menyenangkan dan tidak bisa dibeli dengan uang,” kata Felix yang mengaku sangat menyukai iklim musik di kota Malang.

Kelas Srawung merupakan salah satu program dari Pasar Srawung. Dua hari berikutnya, 24 dan 25 November, Pasar Srawung masih memiliki program lainnya, yaitu Gigsrawung #3 dan Liberasi #3.

Gigsrawung #3 menampilkan Arireda dalam rangkaian tur bertajuk Menunggu Kemarau. Tiketnya dibanderol Rp.100.000, itupun sudah termasuk dengan CD terbaru Arireda, souvenir, ditambah segelas kopi atau teh untuk dinikmati pengunjung. Mahal? Mengutip wawancara Felix Dass bersama majalah Hai, “Kalau kemahalan, kalau nggak punya uang, diem aja. Kalau lo komentar nggak penting, lo sama saja menggerus semangat orang yang masih mau usaha.”

Begitulah Felix Dass, orang yang selalu percaya akan sektor riil yang harus terus dihidupkan, serta selalu tampil apa adanya dengan berbicara blak-blakan dan tidak ragu untuk melontaran kata-kata pedas.

“Kalo ingin besar, langkah yang diambil harus besar juga…” kata Felix Dass, suatu kali.

Ridin’ down the highway
Goin’ to a show
Stop in all the by-ways
Playin’ rock ‘n’ roll *

* Kutipan di atas diambil dari lirik lagu AC/DC yang berjudul “It’s a Long Way to the Top (If You Wanna Rock N’ Roll)”, termuat dalam album T.N.T. (1975).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.