Tahun 2018, Akhir Dari Perjalanan No Man’s Land?!

Setelah 24 tahun, pionir punk/oi! di Indonesia ini memberi tanda-tanda untuk menghentikan karir musiknya. Apakah untuk selamanya?!...

1
345
no man's land - malang
Foto Dok. No Man's Land.

Kabar cukup mengejutkan datang dari unit punk/oi! veteran asal kota Malang, No Man’s Land. Melalui unggahan di akun media sosial, mereka resmi mengirim sinyal bahwa tahun 2018 ini bakal jadi akhir dari perjalanan musik No Man’s Land.

Rumor ini makin menguat setelah label rekaman No Man’s Land yang berbasis di Belanda, Aggrobeat Records, merilis informasi tersebut melalui terbitan newsletter barunya di edisi ke-40.

“The band was founded in Malang, Indonesia in 1994 and in 2012 they became one of the first bands on Aggrobeat Records. Since joining the Aggrobeat stall the band released 5 CD’s, 1 LP, 1 cassette, 4 EP’s and 5 video’s.” tulis Aggrobeat Records.

Dalam newsletter tersebut juga memuat penyataan dari pendiri sekaligus vokalis/gitaris No Man’s Land, Didit Samodra: “I have been in the band for 24 years. Now time has changed, I have too little time for the band especially for live shows. We want to thanks all our friends for supporting us and for the good times we had.”

Isu perpisahan No Man’s Land sebenarnya sudah cukup santer terdengar belakangan ini – terutama di kalangan teman-teman dan lingkaran komunitas mereka sendiri di Malang. Hanya saja, ketika itu belum ada pernyataan resmi dari No Man’s Land. Lagipula, Didit Samodra dkk masih tampak aktif memproduksi karya rilisan serta menyiapkan materi musik berikutnya.

Baca Juga: Apa Kata Mereka di Eropa Tentang No Man’s Land ?

Sementara ini, alasan yang paling masuk akal dari ‘pamitnya’ No Man’s Land adalah seperti yang disampaikan Didit Samodra; Band ini sudah berjalan 24 tahun. Rasanya sudah cukup. Kesibukan para personelnya yang sudah bekerja dan berkeluarga itu semakin padat, serta kewalahan meluangkan waktu untuk band, terutama untuk manggung.

Bulan lalu (14/01), No Man’s Land sempat mengunggah video melalui laman Facebook-nya. Isinya rekaman audio ketika No Man’s Land membawakan lagu kover “When I Was Young” milik The Oppressed. Di hari yang sama, Didit Samodra membagikan video tersebut sembari menulis status di Facebook-nya: “Segera rilis hanya dalam format kaset berisi 14 lagu, album penutup perjalanan 1994-2018.”

Baca Juga: No Man’s Land Menapaki Jejak di Album Cover Story

Ya, itu mungkin bakal jadi album terakhir No Man’s Land. Sementara ini. Isinya, konon akan memuat lagu-lagu kover dari band asing yang mempengaruhi dan menginspirasi musik No Man’s Land sepanjang 24 tahun.

No Man’s Land terbentuk di kota Malang sejak tahun 1994. Didit Samodra dkk memainkan jenis musik Oi! dan merupakan salah satu band dengan riwayat karir yang paling panjang di kancah punk dan skinhead Indonesia. Mereka telah bermain dalam ratusan panggung di berbagai kota di Indonesia. Bahkan sempat menerbitkan buku biografi 20 Tahun No Man’s Land, beberapa tahun lalu.

Sampai detik ini, diskografi No Man’s Land sudah mencakup tujuh album studio – plus sederet rekaman singel, EP, split, serta proyek kompilasi internasional. Sejak beberapa tahun terakhir, No Man’s Land bergabung dengan label rekaman asal Belanda, Aggrobeat Records, yang rutin memproduksi rilisannya untuk skala internasional.

Baca Juga: Piringan Hitam No Man’s Land Sudah Tersedia di Indonesia

“Iya, sudah 11 rilisan selama di Aggrobeat,” kata Didit Samodra kepada saya, semalam melalui layanan messenger di Facebook. Ia juga mengirimkan link berita dari Aggrobeat newsletter edisi #40.

“Apa masih ada yang mau dirilis lagi sama No Man’s Land?” tanya saya penasaran.

“Kalau album atau materi yang belum pernah dirilis ya yang Cover Story,” jawab Didit Samodra.

“Materi singel atau split mungkin?!” tanya saya lagi.

“Belum ada kabar lagi dari label [Aggrobeat]. Tapi ada rencana untuk [rilisan] yang belum terealisasi…” jawabnya singkat.

Beberapa hari lalu, Didit Samodra sempat berkunjung ke kantor redaksi GeMusik bersama Eko Marjani (Koalisi Nada). Kami memang sudah janjian untuk bertemu. Dia juga mau menyampaikan karya rekamannya yang baru sampai di Indonesia, yaitu piringan hitam album split antara No Man’s Land dengan Contingent Anonyme (Perancis) rilisan Aggrobeat Records dan Rusty Knife Records.

Kami berbincang lumayan banyak siang itu. Tentang kesibukan terakhir No Man’s Land, serta rencana-rencananya ke depan. Kami lalu berjanji akan bertemu di lain hari dan berbincang lebih banyak lagi. Mungkin untuk sesi wawancara yang lebih intim dan panjang.

Baca Juga: Piringan Hitam No Man’s Land Sudah Tersedia di Indonesia

Apapun pilihan yang diambil Didit Samodra dan No Man’s Land, tetap patut untuk dihormati. Pencapaian dan warisannya sudah cukup bisa dibanggakan. Toh, kalau pun No Man’s Land dengan sadar memilih untuk berhenti, mereka masih berupaya menutup karirnya dengan karya. Paling tidak itu bisa jadi akhir yang cukup bahagia – bagi band, fans, dan teman-teman mereka.

Bukankah mereka sudah bilang ketika meminjam lirik lagu “When I Was Young”-nya The Oppressed;

When I younger, so much younger than today
I lost my liberty for causing an affray
But now I’m older and much wiser than before
I’ve done my time and I ain’t going back for more…

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.