GeMusik Dengan usia rata-rata berkepala enam, God Bless menjadi salah satu bintang yang mencorong pada malam penganugerahan AMI Awards 2017 bertempat di Teater Garuda Taman Mini Indonesia Indah, Kamis (16/11) malam.

Melalui album Cermin 7 mereka memenangi dua kategori Album Rock Terbaik setelah menyisihkan deretan generasi penerusnya seperti  Gugun Blues Shelter (Hitam Membiru), Kotak (Long Live Kotak), Slank (Palalopeyank) dan Piston (Titik Nol).  Sementara untuk predikat Grup Rock Terbaik disabetnya setelah bersaing ketat dengan Gugun Blues Shelter (Hitam Membiru), Saint Loco Feat Iwa K & DJ Tius (Bebas), Slank (Palalopeyank)  dan The Changcuters (Bentrok Sinyal). Penyerahan penghargaan diwakili Ian Antono (gitar) dan Fajar Satritama (drum). Ada pun Achmad Albar (vokal), Donny Fattah (bass) dan Abadi Soesman (keyboard) berhalangan hadir.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Yayasan AMI atas nama Achmad Albar, Donny Fattah dan Abadi Soesman yang kebetulan tidak bisa hadir,”  kata Ian Antono (67) sesaat menerima penghargaan. Sudah, gitu aja. Tidak kurang tidak lebih.

Coretan yang menjadi penanda saat-saat pengerjaan album Cermin 7 pada pertengahan tahun 2016
Coretan yang menjadi penanda saat-saat pengerjaan album Cermin 7 pada pertengahan tahun 2016

Album Cermin 7 direkam setahun lalu dengan judul semula Cermin 2016. Materinya direkam ulang dari album Cermin (1980) dengan penambahan tiga lagu baru: “Bukan Mimpi Bukan Ilusi”, “Kukuh” serta “Damai” yang kemudian menjadi single pertama. Pembuatan ulang album ini berangkat dari keprihatinan para personel God Bless bahwa dalam usia karirnya yag ke 44 yang tidak satu pun memiliki master album karyanya sendiri. Dengan tujuh album penuh plus tiga kompilasi, baru kali inilah memiliki hak atas master rekaman. Selebihnya berada di tangan perusahaan rekaman atau musnah. Sebagai contoh, pita 2 inch yang menyimpan materi album pertama, sering disebut album Huma Di Atas Bukit, langsung dihapus.  Kabarnya mantan bos JC Record, pemilik master album Cermin, bahkan tidak mengetahui keberadaan master aslinya. Belakangan Log Zhelebour melalui bendera Logiss Recoreds merilis ulang.

Cerita grup band yang tidak memiliki master album sendiri umumnya dialami oleh band yang berjaya pada periode ‘70an hingga ‘80an. Kisah perseteruan Trio Bimbo dengan Eugine Timothy, bos Remaco, menjadi sejarah kelam betapa bisnis rekaman pada zaman dulu tidak dibuat berdasarkan prinsip hukum yang memberi perlindungan atas seni kreatif.

Formasi terakhir God Bless: Ian Antono (gtar), Abadi Soesman (keyboard), Achmad Albar (vokal), Fajar Satritama (drum), Donny Fattah (bass)
Formasi terakhir God Bless: Ian Antono (gtar), Abadi Soesman (keyboard), Achmad Albar (vokal), Fajar Satritama (drum), Donny Fattah (bass)

Berangkat dari kesadaan tersebut, maka Achmad Albar dan kawan-kawan bertekad untuk mulai melakukan pendokumentasian. Langkah awalnya adalah mendaurulang materi album Cermin. Dengan membawakan ulang lagu-lagu seperti “Anak Adam, “Musisi”, “Balada Sejuta Wajah”  atau “Selamat Pagi Indonesia” dalam aransemen baru, tentu mereka akan terbebas dari kemungkinan tuntutan pemilik master lama, karena seperti diketahui hak atas karya cipta melekat seumur hidup pada nama penciptanya.

Sejak album Cermin 7 dirilis pada Januari 2017, frekuensi penampilan God Bless cenderung meningkat. Umumnya mereka tampil sepanggung dengan musisi generasi muda mengingat band seangkatannya sudah banyak yang non aktif. Mereka berusaha survive bisa bisa dihitung dengan jari. Di antaranya The Rollies dan Giant Step. (Foto : Istimewa)

Kemenangan malam itu seakan memberi inspirasi bahwa gerogotan waktu tidak mampu membunuh semangat kreatif musisi sejati. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.