GeMusik News – Tring! Tiba-tiba aplikasi pesan WhatsApp saya berbunyi. Isinya, pesan promosi dari seorang teman yang sedang menangani sebuah band baru asal Jakarta. Karena teman, saya pun langsung membaca sekaligus menekan link YouTube yang ada dalam pesan tersebut. Ya, bagaimana pun rasa penasaran itu ada. Tapi, belum juga memasuki detik ke-20, video musik yang sedang berputar itu langsung saya stop. Tanpa bermaksud melecehkan apapun yang ada dalam video musik tersebut, jujur, saya tidak bisa menyembunyikan kernyitan di dahi saya.

Ternyata masih ada ya yang berpikir kalau ukuran kesuksesan sebuah band itu adalah digaet label rekaman besar, masuk televisi, diburu tanda tangan dan dimintai foto bareng oleh penggemar. Akibatnya, mereka  melacurkan idealismenya demi ‘syahwat’ popularitas semata. Dan anehnya lagi, mereka juga berkiblat kepada band-band yang mengumandangkan tren musik yang nyata-nyata sudah lewat masa jayanya. Jelas sekali, di sini kita tidak sedang membicarakan musik rock atau metal, apalagi jazz!

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan pilihan genre dari band ini. Yang disayangkan adalah jalan pintas yang mereka ambil demi mendapatkan popularitas instan. Apalagi dari selentingan yang saya dengar, latar belakang selera musik para personel band ini bermuara pada nama-nama seperti Saint Loco, One Ok Rock, hingga  In This Moment. Mengikuti tren musik pop melayu yang sudah basi, tentunya merupakan tindakan menggelikan. Mereka lupa, kesuksesan hanyalah akhir dari seluruh upaya yang kita lakukan. Bagaimana pun, kita tidak boleh melupakan sebuah proses.

Baca Juga: Anak Band Harus Sadar Publikasi

Kesabaran akan menjalani sebuah proses ini bisa dicontoh dari banyak band Indonesia di era ‘70, ‘80, atau ‘90-an. Salah satunya, GIGI. Saat saya mewawancarai Armand Maulana dkk tujuh tahun lalu untuk salah satu majalah musik yang saat itu masih eksis, mereka mengaku tidak takut dengan keadaan industri musik yang kala itu dibanjiri band pop melayu. Karena menurut mereka, situasi tersebut hanyalah siklus terhadap tren musik yang satu atau dua tahun lagi akan berubah.

Terbukti, semua yang muncul atas nama tren itu terseleksi satu persatu dan hilang entah ke mana. Kemudian menyebarlah virus boyband dan girlband yang juga nongol atas nama tren musik dan pasar. GIGI? Mereka tetap survive di tengah rongrongan tren musik ‘musiman’ itu. Bahkan tetap bisa menghasilkan album baru dengan hit dan sejumlah proyek lagu rohani yang serta merta memperluas wilayah show mereka. Tren boyband ini juga lantas raib terembus angin hanya dalam hitungan satu dan dua tahun.

Album terakhir yang dirilis GIGI adalah album reliji, Setia Bersama Menyayangi dan Mencintai yang dirilis awal Mei 2017 kemarin. Ini juga berbarengan dengan mewabahnya tren musik EDM (Electronic Dance Music) di Indonesia. Nah, bagaimana nasib GIGI? Jadwal panggung mereka masih tetap padat. Secara individu, para personel GIGI juga sibuk dengan berbagai proyek solo dan sampingannya. Terakhir, saya menonton aksi GIGI pada konser 5UPERGROUP di Jakarta Convention Center, 21 November 2017 lalu. Dan mereka masih sangat menawan!

Saya pikir, secara manajemen, GIGI cukup tertata rapi dan bisa memelihara produknya dengan baik. Meskipun sempat terdengar gosip perpecahan saat album terakhirnya digarap dan dirilis tanpa melibatkan gitaris Dewa Budjana yang tengah sibuk merekam album solonya di Amerika Serikat dan posisinya digantikan oleh Denny Chasmala, tapi hal itu bisa mereka tutupi dengan baik. Pastinya, mereka dapat dijadikan contoh bagi band-band yang baru masuk industri musik saat ini baik dari segi musikalitas maupun konsistensi.

Baca Juga: Go International

Atau, jika bicara artis solo, Melly Goeslaw juga menjadi musisi yang layak dijadikan panutan. Puteri mendiang penyanyi Melky Goeslaw ini adalah artis yang paling bisa bertahan dengan situasi industri musik yang saat itu dihinggapi tren musik pop melayu dengan segala sikap kreatifnya. Dia selalu tampil beda baik dengan karya-karyanya maupun konsep imaging yang disuguhkannya. Meski saat itu ia juga mengaku gelisah dengan kondisi industri musik yang tengah menukik tajam.

“Gue nggak bisa bikin lagu seperti itu (pop melayu). Karena itu bukan jiwa gue. Gue akan tetap bikin sesuatu yang sesuai dengan kata hati gue. Dan kenyataannya, yang penting gue nggak bisa ngeliat itu bakal laku atau nggak. Tapi ini (bisa) menjadi referensi bagi musisi lain. Buat seniman, itu akan menjadi suatu kepuasan,” tuturnya.

Gitaris Slank, Ridho Hafiedz, juga memiliki pernyataan tegas dan mutlak dengan kondisi industri musik Indonesia saat itu. Lewat sebuah percakapan santai yang ditemani semangkuk mie instan dan segelas teh manis, Ridho mengatakan jika ada produser atau label rekaman yang memintanya membuat lagu komersil, dia mau-mau saja. Tapi, berkompromi untuk bikin lagu komersil yang setipe seperti tren saat itu? “No way! Yang gue tahu bikin lagu bagus itu dari alam bawah sadar kita. Dari hati. Bukannya ikut-ikutan,” terangnya.

Beberapa hari setelah menerima pesan promosi via WhatsApp tadi, beranda akun Facebook saya diberondong postingan tentang perilisan singel baru milik band anyar yang dibentuk seorang teman dunia maya. Rasa penasaran lagi-lagi muncul. Saya klik link YouTube yang tertera di situ. Dan, benar saja! Jenis musik yang ditawarkan band ini setipe dengan band yang ‘iklannya’ saya terima via WhatsApp sebelumnya. Bedanya, band yang satu ini berasal dari daerah. Ya Tuhan, apakah tren musik kita benar-benar mundur lagi ke 10 tahun yang lalu?

Selang satu minggu, salah satu media online memberitakan perilisan singel ini dengan memberi judul yang menyilaukan. Mereka seakan menganggap band ini sebagai representasi paripurna di daerah tempat kelahirannya yang sadar tidak sadar mengesampingkan band-band lain yang memiliki karya dan kemasan musik yang lebih bersikap. Si band tentu saja bangga dengan pengkultusan tersebut. Mereka bahkan makin bergaya ala rocker melebihi para rocker tulen yang ada di muka bumi ini. Sambil mengelus dada, saya berkata dalam hati. “Sabar, Rik. Semoga ini cuma mimpi.” (*)

Baca Juga: Rocket Rockers Reborn

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here