Untuk Musisi yang Lebih Peduli Musik, Daripada Popularitas (gemusik/baruna)
“Lagu kita masih sama Indonesia Raya”,
(Sawung Jabo)

GeMusik News – Persenyawaan antar genre, seperti majemuknya suku dan ras bangsa kita yang hidup dan punya selera sama, dalam kehidupan berkesenian, kerja sama, berbangsa, bernegara. Mari mencari persamaan di alam perbedaan, tidak ada persaingan diantara kita, karena tidak ada rockstar diantara kita.

Sebagaimana sumber kearifan timur di bumi Nusantara ini terlahir, yang ada daya niatan keperduliannya, sebaiknya dirangsang kadar interest masing-masing untuk menggali dan mendalami filosofi bermusik, berbuat sesuatu untuk saling mendukung, seperti hasil perjuangan George Harrison di Bangladesh, seperti yang kualami, dicontohkan terakhir kunjunganku di kota barometer musik rock di Malang.

Di kota ini pemahamanku bersalin dan pencerahan yang kualami, karena pada suatu momentum, setiap individu menuju pencapaian kebersamaan visi dan misi, secara prioritas yang utama, untuk diaplikasikan bersama oleh para musisinya dan senimannya dengan berbagi perangkat karyanya, sehingga terjadilah situasi kondisi ketulusan “gotong royong”.

Hal tersebut bereaksi disebabkan adanya aksioma yang beralasan, lalu menarik dari dalam lautan fatwa, ke permukaan langit di ufuk jiwa, hingga timbulnya suatu kesadaran dan daya niatan yang baik dan benar pada sesama untuk bersama.

Bukan kesamaan selera saja atau kuasa ego selera, buat pemuas gengsi pribadi semata. Bersifat manusiawi dan tabiat yang alami, mengikuti ego “kehendak berkuasa” manusia (Friederich Nietzsche). Akan tetapi kebijakan empati pada sesama penting, bukan hanya sekedar pengendalian daripada kekuatan egonya sendiri-sendiri, disebabkan hanya karena ingin di posisi aman, nyaman, dan mapan.

Tetapi sebaliknya, dengan pertimbangan pemikiran yang matang, Jalur yang lebih baik ditempuh adalah jalan keselamatan.

Meskipun ada pengorbanan dalam alur kesepakatannya. Selain daripada itu, proses kehendak ilmu Laduni yang dilewati oleh keyakinan kehadiran ruhani dalam berkesenian ini, yang memang pantas diteladani dari Negeri luhur sumber kearifan timur ini, dan sepatutnya bisa terwujudlah harmoni bathiniah, dan jika persenyawaan batin lebih diutamakan, maka seni musik (bentuk seni lainnya).

Dalam berproses secara individu, ataupun kolektif, menggunakan olah batin, bukan hanya olah akal / buah pikiran dan pengetahuan formal / pakem akademis saja. Hasil karya tersebut akan semakin lebih indah, dalam harmoni batiniah untuk saling mendukung searah, saling mendukung dari kemurahan hati, gairah jiwa dan akal sehat, agar dipermudah keselarasan persamaan di alam perbedaan (khususnya genre musik dan segala bentuk warna sisi kehidupan pada umumnya).

*) Baruna Priyotomo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.