GeMusik – Saat itu, Kamis 14 Agustus 1969, masih sehari menjelang penyelenggaraan Woodstock dimulai. Tetapi kemacetan sudah mengular sepanjang puluhan mil dari lokasi pertunjukan di Bethel, Sullivan County, New York. Mereka adalah calon penonton Woodstock yang datang dari berbagai belahan AS, generasi yang kecewa terhadap berbagai kebijakan pemerintahnya,  lalu berusaha menemukan dunia sendiri, diprovokasi oleh tagline acara : “Datanglah ke Woodstock dan lakukan apa yang kamu suka tanpa ada yang menghalangimu!’

Konsentrasi massa itu secara masif  terus bertambah dari waktu ke waktu. Empat sekawan penggagas, Michael Lang, Artie  Kornfeld, Joel Rosenman dan John Robert  mulai dilanda panik. Personil tambahan segera diterjunkan guna membantu tim sekuriti dan terutama medis. Sebagian lagi diperbantukan menambah saliran air, toilet, dapur atau  membangun panggung alternatif yang berukuran lebih kecil daripada panggung utama yang berukuran 20 m x 15 m x 5 m. Perangkat sound system- nya diperoleh dari pinjaman milik The Grateful Dead. Keberadaan panggung alternatif ini kurang lebih sama dengan Welcoming Stage di perhelatan Soundrenaline.

Sementara itu para calon penonton yang tidak menyadari kepanikan pihak penyelenggara asyik mengerubuti kios merchandise yang menjual berbagai macam souvenir khas kaum hippies serta berbagai atribut dengan simbol dan slogan kontrakultura. Mereka adalah orang-orang yang tidak perduli dengan heboh pendaratan Apollo 11 yang sedang jadi perbincangan dunia.

Jumat 15 Agustus 1969, tepat pukul 17.07 waktu setempat Festival Woodstock resmi digelar. Seharusnya Sweetwater tampil membuka acara, tapi band tersebut terlambat tiba di lokasi. Akhirnya seorang musisi tidak terkenal, Richie Havens, diminta mengisi kekosongan. Ia mengimprovisasi lagu “Motherless Child” menjadi lagu yang diberi judul “Freedom”. Temanya berisi spirit pembebasan kaum kulit hitam. Lagu yang kelak muncul dalam film Woodstock garapan sutradara Michael Wadleigh ini menjadi hit di seluruh dunia.

Jadi, isu kebebasan yang ditiupkan sebagai ruh Festival Woodstock bukan cuma disambut oleh penonton, tetapi ‘dimanfaatkan’ sebagian pengisi acara. Arlo Guthrie, penyanyi folk  lain yang tampil setelah Richie Havens, meneriakan sebuah kalimat yang kemudian sangat terkenal: “New York State Thruway is Closed, Man!”. Ia melakukan monolog di bawah pengaruh narkotik.

Joan Baez, headliner hari pertama, naik panggung dibayangi memburuknya cuaca. Ratu folk yang tengah hamil itu sempat menceritakan suaminya, David Harris, yang sedang ditahan. Joan adalah seniman yang gencar melancarkan protes. Salah satu lagu yang dibawakannya malam itu, “Joe Hill”., didedikasikan untuk  Joe Hill, pemusik folk  yang dieksekusi mati pada tanggal 19 November 1915 setelah didakwa terlibat pembunuhan. Hujan deras pun turun saat Joan Baez menyanyikan lagi terakhir, “We Shall Overcome”. Kecuali tenda-tenda darurat yang sudah basah kuyup, tidak ada lagi tempat bagi penonton untuk berlindung dari hujan dan sengatan udara yang menggigit. Sebagian harus rela tidur atau beristirat di area terbuka, yang basah dan tentu saja berlumpur.

Denga tagline acara ini: “Datanglah ke Woodstock dan lakukan apa yang kamu suka tanpa ada yang menghalangimu!’, festival ini ditonton oleh 450 ribu orang
Denga tagline acara ini: “Datanglah ke Woodstock dan lakukan apa yang kamu suka tanpa ada yang menghalangimu!’, festival ini ditonton oleh 450 ribu orang

Pada awalnya Lang hanya merencanakan Woodstock untuk sekitar 60 ribu sampai mentok-mentoknya 150 ribu. Namun faktanya jumlah pengunjung meledak hingga 450 ribu!  Akibatnya, tiket masuk seharga $US 18 terpaksa digratiskan. Dan, mulailah muncul berbagai permasalahan. Di lahan peternakan seluas 240 hektar milik Max Yasgur ini,  600 toilet yang disediakan pihak penyelenggara hanya mampu bertahan sebentar, setelah itu tidak dapat lagi dipergunakan karena meluap. Untuk membersihkan badan, pengunjung festival dipaksa ‘kreatif’ dengan memanfaatkan air sungai yang mengaliri area ini. Dalam sleeve cover album soundtrack dari film Woodstock The Movie akan terlihat dua perempuan telanjang lagi mandi di sungai ini.

Urusan air minum dan makanan juga tidak kurang ribetnya. Pada hari pertama perusahaan katering Food for Love yang di kontrak Woodstock Ventures Inc berhasil membagikan 500 ribu potong hamberger dan hot dog. Tetapi hari berikutnya mereka tak berkutik. Akses menuju area festival terputus oleh luapan pengunjung. Tidak ada pilihan, pihak penyelenggara akhirnya mendatangkan kebutuhan perut ini melalui helikopter. Warga di sekitar Bethel yang semula menentang habis-habisan penyelenggaraaan ini berbalik menyediakan makanan dengan harga murah bagi mereka yang ‘terkurung’ di ring dalam.

Woodstock (2) Festival Yang Mengubah Sejarah Rock & Roll
The Who menjadi pusat perhatian setelah sebelumnya membakar peralatan panggung, termasuk penghancuran gitar oleh Pete Townshend

Hari kedua menampilkan bintang rock The Who yang belum lama merilis album My Generation. Muncul pukul 05.00 sebelum Jefferson Starship, vokalis Roger Daltrey antara lain menyanyikan “See Me, Save Me” dari album klasik Tommy. Kehadiran The Who menarik perhatian setelah sebelumnya dalam sebuah atraksi membakar peralatan, termasuk  penghancuran gitar oleh Pete Townshend.

Hari terakhir, 17 Agustus, festival dibuka oleh Joe Cocker, yang setahun sebelumnya mengeluarkan debut  album dengan meng-cover lagu milik The Beatles, “With a Little Help from My Friends”. Penampilan di Woodstock melejitkan mantan tukang pasang instalasi gas ini sebagai superstar  baru.

Jimi Hendrix. Ditasbihkan sebagai Dewa Gitar sejagat setelah menginterpretasikan sendiri lagu “Star Spangled Banner” yang menjadi sumber perdebatan berkepanjangan.
Jimi Hendrix. Ditasbihkan sebagai Dewa Gitar sejagat setelah menginterpretasikan sendiri lagu “Star Spangled Banner” yang menjadi sumber perdebatan berkepanjangan.

Hari itu sebenarnya Jimi Hendrix diagendakan menutup seluruh rangkaian festival, akan tetapi badai hujan yang menguyur memaksa pertunjukan dihentikan cukup lama. Hendrix baru naik panggung keesokan harinya, tanggal 18 Agustus. Penonton yang tersisa hanya tinggal sekitar 25 ribu orang. Namun di arena yang sudah luluh lantak itu  Hendrix menciptakan sejarah saat memainkan “The Star Spangled Banner”, yang aransemennya ia interpretasikan sendiri melalui dengan suara rentetan tembakan dan bom dari gitarnya. Tindakannya ‘memperkosa’ lagu kebangsaan Amerika Serikat tersebut menjadi sumber perdebatan berkepanjangan. Ia menutup penampilan monumentalnya dengan “Hey Joe”, pukul 9:00 pagi.

Sekitar 32 musisi yang tampil selama penyelenggaraan Woodstock sebenarnya tidak sesuai rencana. Iron Butterfly, salah satu band rock kondang saat itu, batal tampil karena tertahan di airport. Joni Mitchell urung hadir karena rombongannya terhalang oleh ribuan pengunjung yang juga tidak berhasil masuk ke area festival. Namun ia sempat menulis lagu berjudul “Woodstock” dan akhirnya dinyanyikan oleh kelompok Crosby, Stills, Nash & Young, yang sudah lebih dulu tiba di lokasi. Lagu tersebut menjadi sangat terkenal antara lain berkat cerita batalnya Joni tampil.

Lang batal mengundang Led Zeppelin karena mereka terlanjur kontrak dengan acara lain. Begitu pun The Jeff Back Grup. The Canadian dan Lighthouse mengundurkan diri akibat stress melihat venue dan luapan pengunjung. The Byrds menolak setelah mendapat pengalaman buruk dalam acara sejenis di Atlanta. The Doors menyatakan tidak tertarik karena Jim Morrison ogah tampil di arena terbuka seluas itu. Hanya Bob Dylan dan Frank Zappa yang tak diketahui alasannya.  Lang mengaku pihaknya sudah menyodorkan kontrak, namun entah kenapa Bob Dylan tidak kunjung menandatanganinya.

Sepasang sejoli yang tengah berpelukan ini diabadikan sebagai cover album orginal soundtrack Woodstock The Movie. Identitas mereka tidak diketahui.
Sepasang sejoli yang tengah berpelukan ini diabadikan sebagai cover album orginal soundtrack Woodstock The Movie. Identitas mereka tidak diketahui.

Begitulah, selama empat hari tiga malam, Festival Woodstock bertransformasi menjadi komunal rock and roll raksasa yang mengklaim sebagai ‘Bangsa Woodtock’. Mereka bersatu dalam wacana kontakultur yang menghalalkan kebebasan berpikir dan anti kekerasan. Semangat kebersamaan diterjemahkan oleh generasi bunga ke dalam ritual seks bebas dan penggunaan narkotika tanpa batas. Walhasil selama acara berlangsung telah terjadi delapan kasus aborsi,  sekitar 797 pengguna narkotika yang harus dirawat , dua di antara tewas karena overdosis,  5.162 orang terpaksa menjalani perawatan medis dan seorang yang tewas tergiling traktor yang supirnya tidak pernah diketahui keberadaannya sampai sekarang.  Lebih dari itu, kemacetan brutal yang ditimbulkannya telah menyebabkan penduduk marah besar dan pemerintah setempat bersumpah tidak akan pernah lagi mengijinkan pertunjukan sejenis.

Woodstock tercatat sebagai episode pertama dan terakhir dari hedonisme generasi bunga yang lahir di tengah situasi serba permisif. Festival yang terukir sebagai gerakan kontrakultur dalam upaya mendobrak tradisi konservatif. Inilah moment yang mengubah sejarah rock & roll.

Dalam pandangan ahli sejarah kontemporer AS, Bert Feldman, “Woodstock merupakan peristiwa yang hanya terjadi satu kali sepanjang hidup kita. Ia adalah kenangan terbaik sekaligus terburuk. Sebuah peristiwa kebudayaan yang tidak akan pernah terjadi lagi.”

Dengan segala keunikannya, Woodstock terbilang sukses dan fenomenal. Namun Lang dan kawan-kawan rugi besar hingga 1,3 juta dollar AS. Enam bulan setelah peristiwa berlangsung, Roberts dan Rosenman membeli saham milik Lang dan Kornfeld masing-masing senilai 31.240 dollar AS. Empat pemuda nekat penggagas acara itu kemudian membubarkan diri dan berpisah. (Bersambung Jumat depan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.