YME: “Konten utama kami tidak hanya pada seni musik saja!”

Sesi tanya jawab bersama YME, sebuah proyek musik anyar dari kota Malang yang pertama kali muncul langsung mengesankan. Kami berbincang mengenai konsep musik yang diusung, pesan di balik lagu mereka, hingga aneka rencana YME ke depannya.

1
238
Foto Dok. YME.

Pertengahan bulan Februari 2018 silam, sebuah proyek musik baru bernama YME tiba-tiba muncul. Tanpa permisi, tanpa woro-woro sebelumnya, mereka langsung merilis karya perdananya.

Melalui kanal YouTube, YME mengenalkan singel perdana yang bertajuk “MANIA”. Singel tersebut bernuansa rock alternatif yang padat dengan tampilan visual yang apik – seakan membuktikan jika grup ini memiliki potensi besar.

Sejak pertama kali diunggah, singel “MANIA” telah sukses menarik perhatian leih dari 2500 pasang mata dan telinga. Tentu bukan angka yang kecil untuk ukuran proyek musik yang masih baru dan belum pernah sekali pun tampil atau mempromosikan diri di depan publik.

Lewat singel tersebut, YME ingin menyampaikan pesan akan pentingnya kepedulian terhadap fenomena bunuh diri yang kerap terjadi karena rasa depresi akibat keterasingan dan kesepian.

GeMusik berkesempatan mewawancarai proyek yang ternyata diisi oleh wajah-wajah lama di scene musik kota Malang ini. Kami membahas soal makna YME sebagai grup musik kontemporer, pesan dari lagu mereka, hingga rencana mereka ke depannya.

Bisa diceritakan kapan dan bagaimana terbentuknya YME?

YME dipublikasikan secara resmi sebagai grup pada tanggal 1 Januari 2018. Tetapi sebenarnya proyek ini sudah jalan dari Oktober 2017. Tujuannya adalah untuk membuat entitas yang berfalsafah pada kemanusiaan dalam kemasan estetik.

Banyak yang penasaran, siapa saja sebenarnya personel YME?

Jaka Satya (SATCF, 4Fingers Down), Wildan Salis (Sharkbite, Bizzare), dan Saston Biru.

Apa arti kata YME?

Untuk definisi dari penamaan YME sendiri tidak bisa kami buka ke publik, dikarenakan ada nilai sentimental yang memang tidak ingin kami ungkapkan saat ini. Tapi yang jelas, gak seperti yang temen-temen kira kok…

Kalian mengaku sebagai grup kontemporer. Bisa dijelaskan apa maksudnya?

YME berpedoman pada seni kontemporer atau tidak mengasuh satu art genre tertentu. [Kami] lebih memilih mengacu pada komposisi-komposisi sastra, musik, nirmana, suara, simbol serta visual yang dianggap paling me-represent nilai estetik yang aktual.

Sebenarnya ada sangat banyak alasan kenapa YME mengaku sebagai grup kontemporer. Selain alasan di atas juga karena konten utama kami tidak hanya terletak pada satu elemen seni [musik] saja. Artinya bukan hanya musik yang ingin kami presentasikan di YME, tetapi juga visual, bahasa, portrait, semiotika dan masih banyak lagi. Di mana semua elemen itu benar-benar dikonsep, diracik dan dieksekusi oleh para personel tanpa ada campur tangan dari luar YME. Analoginya begini; YME ini ‘mahasiswa’ yang lagi demo di ‘jalanan’, tapi mahasiswa YME yang ini demonya berupa artwork dan jalanannya adalah musik.

Jadi YME ini memang bukan pure proyek musik, tapi proyek untuk berkesenian, di mana seni yang dianut adalah seni kontemporer. Kemungkinan mereka yang mendengarkan atau melihat YME baru akan benar-benar memahami setelah melihat karya-karya kami selanjutnya. Tapi yang menyimak bebas kok untuk mendefinisikan kami sebagai apapun.

A post shared by YME (@yme.rock) on

Singel pertama “MANIA” mengangkat topik fenomena bunuh diri karena depresi yang disebabkan oleh kesepian. Mengapa tertarik mengangkat isu tersebut?

Benar, tapi lebih tepatnya mungkin terpicu oleh fenomenanya [yang melatari aksi bunuh diri]. Depresi sebenarnya memiliki banyak penyebab. YME memilih loneliness (sindrom) dikarenakan itu merupakan salah satu kondisi yang jarang mendapat perhatian, terlebih lagi [mendapat] treatment spesial.

“MANIA” ditulis oleh Saston Biru di akhir 2017 sebagai hasil atas akumulasi keprihatinan pada fenomena bunuh diri yang sedang marak terjadi belakangan. Dari riset kecil yang YME lakukan, orang terdekat dari para pelaku kasus bunuh diri mengaku bahwa mereka tidak melihat keluarga atau sahabat mereka mengalami masalah atau terjebak dalam krisis apapun sebelum melakukan tindakan bunuh diri. Sehingga muncul banyak pihak yang berspekulasi bahwa mereka sedang menderita depresi dan juga loneliness (sindrom) tepat sebelum melakukan tindakan bunuh diri itu.

Apa lalu pesan yang ingin YME sampaikan lewat singel “MANIA” itu?

YME menyampaikan agar seluruh lapisan yang menyimak bisa lebih peduli, peka dan tidak mengesampingkan persoalan depresi maupun kesepian yang dihadapi oleh orang-orang di sekitarnya. Dikarenakan banyak dari mereka yang mengalami lonely syndrome itu juga tidak pernah benar-benar menyadari bahwa mereka sedang berada di dalamnya.

Selain itu, “MANIA” juga bisa disebut sebagai kampanye kecil pencegahan tindak bunuh diri yang bisa YME lakukan. Menurut literatur, depresi yang disebabkan oleh lonely syndrome merupakan salah satu faktor terbesar pemicu bunuh diri, namun masyarakat cenderung terdistraksi oleh konflik umum yang dialami oleh penderita.

Apa rencana kalian dalam waktu dekat ini?

Our next plan is just making more artwork, and hoping it would make the society be a more loveable place for everyone without any exception. For the short term planning, YME’s preparing a new artwork that will be release as soon as posible.

Redaksi GeMusik sangat menyukai singel “MANIA” – mulai dari komposisi musiknya, tema liriknya, hingga produksi videonya yang keren dan menarik. Lagu ini kerap kami putar hingga sekarang dan masih menjadi playlist rutin di kantor. Jika melihat dari akun media sosial mereka, YME tampaknya sedang menyiapkan sesuatu. Memang langkahnya cenderung diam-diam dan agak misterius. Mari ditunggu saja.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.