Di kancah musik pop Indonesia, tahun 2005 menjadi momen penting bagi grup musik Ungu dengan peluncuran album mereka yang bertajuk Melayang. Salah satu singel yang paling membekas dari album ini adalah “Aku Bukan Pilihan Hatimu”. Lagu yang diciptakan oleh Franco Wellyjat ini tidak hanya sekadar menjadi hits pada masanya, tetapi juga berhasil mengukuhkan posisi Ungu sebagai salah satu band papan atas tanah air. Komposisi ini dikenal luas karena kemampuannya menyuarakan perasaan patah hati dengan cara yang elegan namun menyayat, menjadikannya lagu wajib bagi pendengar yang sedang berada di persimpangan jalan asmara. Pesan Kepasrahan yang Mendalam
Lirik “Aku Bukan Pilihan Hatimu” melukiskan sebuah narasi tentang keikhlasan yang pahit. Sang protagonis dalam lagu tersebut menyadari bahwa dirinya bukanlah sosok yang diinginkan oleh pujaan hatinya. Alih-alih memaksakan kehendak, lirik lagu ini menawarkan sebuah penerimaan takdir bahwa dua insan mungkin memang tidak digariskan untuk bersatu. Ungkapan cinta yang abadi ditegaskan berulang kali, menyiratkan bahwa meskipun tidak memiliki, perasaan tersebut akan tetap hidup sepanjang waktu. Bagian refrain lagu ini menjadi puncak emosional, di mana keyakinan akan cinta yang tulus disandingkan dengan realitas pahit perpisahan, sebuah tema universal yang membuat lagu ini tetap relevan hingga bertahun-tahun kemudian.
Sosok Jenius di Balik Layar British Invasion
Sementara Ungu merayakan kesuksesan mereka di panggung depan, sejarah musik dunia mencatat adanya figur-figur krusial yang justru bersinar dari balik layar. Salah satu nama yang sering terlupakan namun memiliki pengaruh raksasa adalah Nicky Hopkins. Lahir di Perivale, Inggris, pada tahun 1944, Hopkins adalah pianis sesi yang sentuhannya mewarnai karya-karya legendaris dari The Rolling Stones, The Beatles, hingga The Kinks. Bakatnya sudah terlihat sejak usia tiga tahun, yang kemudian membawanya memenangkan beasiswa ke Royal Academy of Music. Namun, ambisi awalnya sempat terhalang oleh penyakit Crohn, sebuah kondisi kesehatan serius yang terus membayanginya sepanjang hidup.
Dedikasi Musikal di Tengah Keterbatasan Fisik
Perjalanan karier Hopkins adalah kisah tentang ketahanan. Pada usia 16 tahun, ia sempat bergabung dengan grup R&B lokal, namun kesehatannya memburuk hingga memaksanya menjalani serangkaian operasi yang nyaris merenggut nyawanya. Setelah menghabiskan 19 bulan terbaring di tempat tidur, Hopkins menyadari bahwa kehidupan tur yang melelahkan mungkin tidak cocok untuknya. Ia pun banting setir menjadi musisi sesi. Keputusan ini justru membawanya menjadi pianis paling dicari di London sepanjang dekade 1960-an, di mana ia dikenal mampu memberikan nyawa pada rekaman-rekaman artis besar tanpa menonjolkan ego.
Kolaborasi Artistik dengan The Kinks
Pada tahun 1965, produser Shel Talmy mengundang Hopkins untuk berkolaborasi dengan The Kinks. Kontribusinya sangat vital dalam empat album studio mereka, termasuk The Kink Kontroversy dan The Kinks Are the Village Green Preservation Society. Peran Hopkins begitu sentral hingga Ray Davies, vokalis The Kinks, menulis lagu berjudul “Session Man” yang terinspirasi darinya. Lagu tersebut menggambarkan seorang pianis yang dibayar hanya untuk bermain, bukan untuk berpikir, namun ironisnya dibuka dengan permainan harpsichord yang sangat berkelas dari Hopkins sendiri. Davies memuji kemampuan Hopkins untuk menyusup ke dalam gaya bermusiknya, memainkan nada yang tepat tanpa berlebihan, seperti yang terdengar pada lagu “Sunny Afternoon” dan “Days”.
Dinamika Hubungan dan Pengakuan Akhir
Hubungan profesional antara Hopkins dan Davies tidak selalu berjalan mulus. Setelah rilisnya album Village Green Preservation Society, ketegangan sempat muncul ketika Hopkins mengklaim bahwa sebagian besar porsi kibor di album tersebut adalah hasil karyanya, sementara kredit resmi lebih mengarah pada Davies. Meski demikian, setelah wafatnya Hopkins pada tahun 1995, Davies secara terbuka mengungkapkan kekagumannya. Ia mengenang Hopkins sebagai musisi yang mampu mengubah lagu biasa menjadi permata, memberikan sentuhan magis tanpa menjadi intrusif, sebuah kualitas langka yang membedakannya dari musisi kebanyakan.
Warisan yang Tak Tergantikan
Selepas era 60-an dan 70-an yang sibuk, Hopkins sempat bergabung dengan gereja Scientology pada tahun 1980-an, yang ia kreditkan telah membantunya lepas dari kecanduan alkohol dan obat-obatan. Di fase akhir kariernya, ia beralih menjadi komposer untuk film, termasuk menggarap musik untuk The Fugitive pada tahun 1993. Meskipun namanya mungkin tidak sepopuler para vokalis band yang iairingi, warisan Nicky Hopkins tetap hidup dalam rekaman-rekaman abadi yang ia bantu ciptakan, menjadikannya salah satu pahlawan tanpa tanda jasa terbesar dalam sejarah musik rock.