Dunia musik sering kali diwarnai oleh keputusan-keputusan mengejutkan yang mengubah arah karier sebuah grup band. Salah satu momen yang paling membingungkan bagi para penggemar terjadi pada tahun 2009, ketika James Mercer, pentolan grup indie rock The Shins, memutuskan untuk memberhentikan seluruh anggota pendiri band tersebut dan melanjutkan perjalanan sebagai satu-satunya anggota asli yang tersisa. Keputusan ini memicu tanda tanya besar, mengingat sejarah panjang yang telah mereka bangun bersama.
Kejayaan Awal dan Kelelahan Kreatif
Terbentuk di Albuquerque pada akhir 1990-an, The Shins dengan cepat meraih pujian berkat kepiawaian mereka meracik lagu. Bergabung dengan label legendaris Sub Pop di Seattle, popularitas mereka meroket ke arus utama setelah dua lagu mereka ditampilkan dalam jalur suara film Garden State pada tahun 2004. Saat itu, alkimia yang terjalin di antara para personel tampak bekerja jauh lebih baik dari yang diperkirakan siapa pun. Namun, setelah perilisan album Wincing the Night Away pada 2007, kelelahan mulai melanda Mercer. Tahun-tahun yang dicurahkan untuk band mulai memakan korban, diperparah oleh tekanan kreatif yang bercampur dengan upaya menjaga persahabatan lama serta dinamika internal band.
Setelah sempat bereksperimen artistik bersama Danger Mouse dalam proyek Broken Bells, Mercer merasa perlu melakukan pendekatan baru. Ia memutuskan berpisah dengan rekan-rekannya—Dave Hernandez, Martin Crandall, dan Jesse Sandoval—dengan alasan bahwa langkah drastis tersebut murni merupakan “keputusan estetika”.
Firasat Perpisahan dan Kekecewaan
Meskipun alasan resminya terdengar diplomatis, mantan drummer Jesse Sandoval sebenarnya sudah merasakan adanya perubahan suasana yang signifikan sebelumnya. Saat mereka tampil dalam beberapa pertunjukan radio terakhir sebagai formasi asli The Shins, Sandoval merasakan firasat kuat. Ia teringat momen ketika turun dari panggung dan menelepon kekasihnya, mengungkapkan keyakinannya bahwa itu mungkin adalah pertunjukan terakhirnya bersama The Shins, meskipun keinginan itu tidak datang dari dirinya sendiri.
Benar saja, beberapa minggu kemudian, sebuah surel datang dari Mercer yang merinci keinginannya untuk mengeksplorasi usaha dan jalan lain, namun samar mengenai berapa lama masa vakum tersebut akan berlangsung. Menurut Sandoval, manajer band bahkan sempat mengisyaratkan kemungkinan istirahat hingga satu setengah tahun. Hingga kini, tidak pernah ada rincian eksplisit mengenai motif Mercer, namun spekulasi di kalangan penggemar mengarah pada kebutuhan brutal untuk melepaskan cara bermain lama yang dirasa menghambat semangat kreatif The Shins untuk berkembang.
Bagi tim yang terlibat, pemutusan hubungan ini terasa menyakitkan. Sandoval menekankan betapa besar investasi emosional dan tenaga yang telah ia berikan, termasuk hal-hal teknis seperti mengemudikan van. Kekecewaan mendalam muncul bukan karena ia tidak menjadi bintang rock atau tidak mendapat bayaran, melainkan karena ia ingin memastikan segalanya berjalan lancar, namun usahanya seolah tidak dihargai. Peristiwa ini menjadi titik balik dalam sejarah karya The Shins, membelah warisan mereka menjadi era sebelum dan sesudah perpecahan. Mercer sendiri mengakui kepada Spin bahwa keputusan itu sangat menyiksa karena ia tidak suka mengecewakan orang lain, namun ia merasa harus melakukannya demi fase baru dalam proses kreatifnya.
Eksplorasi Solo George Harrison
Jika James Mercer memilih merombak total bandnya demi visi baru, sejarah mencatat pendekatan berbeda dari legenda musik lainnya dalam mencari identitas di luar bayang-bayang grup besar. George Harrison, yang seharusnya berusia 82 tahun tahun ini jika tidak meninggal dunia pada 2001, juga mengalami pergulatan untuk menemukan suaranya sendiri di luar The Beatles. Bedanya, eksplorasi Harrison sering kali melibatkan kolaborasi yang luas dan peran sebagai produser bagi musisi lain.
Eksperimen Musikal Pertama
Pada tahun 1968, Harrison merilis Wonderwall Music, sebuah album yang mewakili serangkaian pencapaian perdana. Ini adalah album solo pertama dari seorang anggota The Beatles (kecuali jika menghitung proyek The Family Way milik McCartney), album pertama yang diproduksi sepenuhnya oleh Harrison, serta rilisan pertama di bawah label baru The Beatles, Apple Records. Album ini bahkan dirilis tiga minggu lebih awal dari The White Album.
Meskipun judulnya kemudian menginspirasi lagu hits Oasis tahun 1995, dan materi musiknya memadukan instrumen India dan Barat jauh sebelum tren world music era 80-an, album ini sering dianggap kurang mengesankan secara komersial. Namun, sebagai album jalur suara instrumental untuk film karya Joe Massot, rekaman ini bisa dinikmati sebagai “bonus” dari sisi kreatif Harrison di era 60-an, ditambah kontribusi dari Ringo Starr dan Eric Clapton. Lagu-lagu seperti Party Seacombe dan Red Lady Too menawarkan nuansa unik meski tanpa lagu hits konvensional.
Peran di Belakang Layar
Perjalanan Harrison berlanjut ke kursi produser pada tahun 1969 dengan album Is This What You Want? milik Jackie Lomax. Meski memiliki suara vokal yang kuat dan didukung produksi Harrison, Lomax tidak pernah mencapai ketenaran yang diharapkan. Ironisnya, album ini melibatkan kontribusi musikal dari Harrison, McCartney, Starr, dan Clapton. Singel utamanya, Sour Milk Sea, ditulis oleh Harrison dan menampilkan hampir semua personel The Beatles kecuali Lennon, menjadikannya secara teknis lebih “Beatles” daripada beberapa lagu di album resmi mereka.
Kolaborasi Spiritual dengan Billy Preston
Hubungan kolaboratif Harrison semakin bersinar saat bekerja sama dengan Billy Preston. Sejak Preston memberikan energi baru pada sesi rekaman Let It Be pada awal 1969, keduanya menjadi sahabat dekat. Harrison turut memproduseri album Preston, Encouraging Words (1970). Di sini, Harrison lebih banyak mengambil peran pendukung dengan permainan gitar yang menonjol, seperti strumming funky pada You’ve Been Acting Strange dan isian wah-wah pada Use What You Got.
Bukti terbesar kedermawanan Harrison sebagai kolaborator terlihat ketika ia memberikan dua lagu terbaiknya dari periode tersebut kepada Preston lebih dulu: My Sweet Lord dan All Things Must Pass. Preston membawakan My Sweet Lord dengan nuansa gereja Baptis selatan yang kental, sementara All Things Must Pass diberi sentuhan kemegahan klasik. Kedua musisi ini memiliki keselarasan musikal dan spiritual yang kuat, sebuah dinamika yang kontras dengan peran “pemain cadangan” yang sering kali dirasakan Harrison saat masih bersama The Beatles hingga pembubaran band tersebut.