Ruang publik bagi seorang musisi adalah panggung paling jujur sekaligus paling keras. Di jalanan, apresiasi dan kritik disampaikan secara instan. Belakangan ini, dinamika musik jalanan di dua belahan dunia menunjukkan kontras yang menarik. Di Jakarta, pemerintah sedang berupaya mengembalikan “kelas” pertunjukan musik tradisi Betawi dengan menata ulang pengamen ondel-ondel, sementara di Atlanta, Amerika Serikat, seorang multi-instrumentalis justru menemukan kejayaan musikalnya di atas trotoar kota.
Mengembalikan Sakralitas Iringan Ondel-Ondel
Bagi penikmat musik tradisi, fenomena ondel-ondel yang turun ke jalan untuk mengamen seringkali dianggap mendegradasi nilai seni itu sendiri. Iringan musik Gambang Kromong atau Tanjidor yang seharusnya megah dan sakral, kerap digantikan oleh rekaman audio seadanya yang diputar lewat pengeras suara bising di jalanan. Hal inilah yang menjadi perhatian Gubernur Jakarta, Pramono Anung. Ia menegaskan bahwa ondel-ondel adalah warisan budaya Betawi yang harus dijaga marwahnya, termasuk kualitas penyajian seninya.
Saat ini, regulasi berupa Peraturan Gubernur (Pergub) tengah digodok untuk menertibkan ondel-ondel dari aktivitas mengamen sembarangan. Pramono menjelaskan bahwa ondel-ondel, sesuai dengan undang-undang kekhususan Jakarta, nantinya hanya diperbolehkan tampil dalam format pertunjukan resmi atau acara kebudayaan yang layak. Tujuannya bukan mematikan rejeki para pelaku seni, melainkan menempatkan atraksi budaya ini di panggung yang lebih terhormat, sehingga estetika visual dan audionya dapat dinikmati secara maksimal.
Wakil Gubernur Rano Karno, yang memiliki latar belakang kuat di dunia seni, turut mempertegas visi ini. Ia sedang menyusun aturan turunan bersama Lembaga Adat Betawi untuk memastikan ondel-ondel tampil di tempat yang pantas. Langkah ini diharapkan dapat mengembalikan pengalaman musikal dan visual ondel-ondel menjadi sebuah pertunjukan seni yang utuh, bukan sekadar alat meminta sumbangan di lampu merah.
Eksplorasi Bunyi ‘Human DJ’ di Trotoar Atlanta
Berbeda dengan upaya preservasi ketat di Jakarta, suasana musik jalanan di Atlanta justru sedang diramaikan oleh inovasi perseorangan yang liar dan bebas. Di jalur pejalan kaki Beltline, musisi bernama Caleb Hensinger atau yang dikenal sebagai “Human DJ” sedang mendefinisikan ulang konsep pertunjukan jalanan (busking). Caleb bukan sekadar bermain gitar akustik; ia menyuguhkan orkestrasi bunyi yang kompleks seorang diri.
Dalam setiap penampilannya, Caleb memadukan kemampuan vokal, rap, beatbox, piano, hingga permainan trompet yang dilakukan nyaris bersamaan. Ia menciptakan loop musik secara langsung di hadapan pejalan kaki, menjadikan trotoar sebagai laboratorium eksperimen bunyinya. Caleb mengakui bahwa konsep one-man band ini adalah impian lamanya, namun ia tidak pernah menyangka respons publik akan seantusias sekarang. Keterampilan teknis yang rumit ini ia asah selama sepuluh tahun, bermula dari sesi-sesi panjang bermain musik di lorong kereta bawah tanah Boston.
Koneksi Organik Antara Musisi dan Kota
Kualitas musik yang ditawarkan Caleb terbukti mampu mengubah pejalan kaki yang sibuk menjadi penonton setia. Bernette Fondong, seorang warga lokal, mengaku terpaku saat mendengar aransemen musik Caleb sepulang kerja. Baginya, kejutan musikal seperti inilah yang membuat suasana kota menjadi hidup. Caleb sendiri merasa kepindahannya ke Atlanta untuk mengejar karir musik jalanan adalah keputusan tepat. Ambisinya sederhana namun fundamental bagi setiap musisi: menjadi artis favorit bagi dirinya sendiri dan bangga dengan produk audio yang ia hasilkan.
Fenomena di Jakarta dan Atlanta ini memperlihatkan bahwa musik jalanan memiliki dua sisi mata uang. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk menjaga kemurnian musik tradisi melalui regulasi tempat pertunjukan. Di sisi lain, jalanan tetap menjadi ruang inkubasi bagi musisi independen untuk menguji materi dan membangun basis penggemar mereka secara organik.