Jakarta punya cara sendiri merawat jejak sejarahnya. Salah satunya lewat Tanjidor, kesenian Betawi yang kental dengan sentuhan budaya Portugis. Musik ini lahir dari perpaduan alat tiup seperti trombon, piston, tenor, dan bas yang saling bertingkah dengan tabuhan perkusi. Banyak dari instrumen yang dipakai ini merupakan warisan sejak awal abad ke-19. Tentu saja usianya yang sangat tua sering kali membuat tampilannya terlihat usang, bahkan suaranya kerap terdengar sedikit sumbang atau fals. Dulu, Tanjidor punya tempat khusus dan rutin mengalun di perhelatan keagamaan atau pesta pernikahan. Sekarang fungsinya sudah sedikit bergeser menjadi sekadar musik hiburan yang merakyat.
Napas Baru di Tengah Keterbatasan
Memainkan kesenian ini jelas bukan perkara gampang. Sebuah grup biasanya beranggotakan sembilan orang, dan masing-masing dituntut punya pemahaman kuat soal notasi, penguasaan karakter alat musik, hingga perbendaharaan lagu. Sempat muncul kekhawatiran bahwa Tanjidor akan punah karena perlahan makin jarang dimainkan. Tapi di tengah pesimisme itu, proses regenerasi ternyata mulai berjalan. Di kawasan Cijantung, Jakarta Timur, sekelompok anak muda mengambil langkah nyata dengan mempelajari kesenian ini secara serius. Mereka kini tergabung dalam grup Putra Mayang Sari. Kelompok ini lumayan rutin mondar-mandir tampil menghibur di berbagai acara di ibu kota. Upaya pelestarian semacam ini sangat mengandalkan keringat dan dedikasi murni dari para pelakunya, sebuah perjuangan nyata agar budaya warisan leluhur tidak hilang ditelan zaman.
Ilusi Popularitas di Era Digital
Realitas yang penuh kerja keras dan interaksi organik ini terasa sangat kontras jika kita melirik apa yang terjadi di panggung musik modern belakangan ini. Di industri saat ini, popularitas justru sering kali dirakit lewat layar ponsel dan transaksi bisnis belaka. Ingat betapa meriahnya festival Glastonbury tahun lalu? Atau mungkin Anda sempat merasa iri melihat rentetan video artis seperti Overmono, Lorde, hingga Self Esteem seliweran tanpa henti di linimasa media sosial Anda. Ternyata, keriuhan itu belum tentu muncul dari antusiasme penggemar asli. Artis-artis tersebut, bersama puluhan nama besar lainnya termasuk Fatboy Slim, Charli xcx, dan Doechii, diketahui membayar agensi pemasaran digital untuk mengerahkan pembuat konten dan influencer. Tugas mereka sangat spesifik. Mereka dibayar untuk menonton konser dan mengunggah potongan video yang dirancang sedemikian rupa agar terlihat seperti unggahan organik dari penonton biasa.
Pabrik Fandom Musisi Indie
Praktik kotor semacam ini rupanya sudah mengakar cukup dalam di industri. Sebuah agensi butik asal Inggris bernama Your Culture ikut andil merancang momen siaran langsung paling viral belakangan ini. Mulai dari keriuhan pesta peluncuran album Last Dinner Party, aksi Chappell Roan di festival Reading, hingga penampilan kejutan Calum Scott di St Pancras International dan Alex Warren di luar Warren Street. Agensi ini bahkan sempat sesumbar di Instagram bahwa mereka telah menangani lebih dari 55 persen nomine Brit Awards terbaru.
Manipulasi sentimen publik lewat media sosial mungkin sudah jadi rahasia umum bagi politikus atau bintang pop arus utama. Tetapi skena musik indie selama ini selalu berlindung di balik reputasi bahwa diskusi online mereka murni berasal dari pendengar sungguhan. Ilusi itu akhirnya hancur lebur. Awal bulan ini, pengguna Reddit bersama musisi Eliza McLamb menyoroti sebuah wawancara Billboard yang membongkar sepak terjang Chaotic Good Projects, sebuah perusahaan pemasaran yang berspesialisasi dalam penyebaran musik di TikTok.
Merakit Hype Buatan
Chaotic Good menaungi sederet artis yang tengah naik daun. Sebut saja Geese beserta proyek solo sang vokalis Cameron Winter, lalu ada Sombr, Warren, Oklou, Zara Larsson, Mk.gee, hingga Dijon. Mereka menggunakan beragam taktik sistematis yang secara khusus dirancang untuk menciptakan sentimen positif buatan. Ada kampanye naratif yang membayar mikro-influencer demi mendorong cerita tertentu tentang seorang artis. Lalu ada kampanye konten buatan pengguna, di mana jejaring influencer mereka dikerahkan untuk membagikan konten dengan latar lagu spesifik.
Yang paling ekstrem, mereka bahkan menjalankan kampanye akun penggemar palsu. Akun-akun bodong ini sengaja dibuat dan diurus oleh pihak perusahaan. Mereka rutin membagikan cuplikan video klip, rekaman konser, hingga poster tur. Semuanya dikemas dengan takarir bergaya bahasa anak muda yang seolah-olah sangat fanatik dan memuja artis tersebut. Sejak skandal wawancara ini meledak, musisi seperti Geese dan Winter langsung kebanjiran tuduhan bahwa kesuksesan mereka hanyalah hasil rekayasa industri. Geese sendiri memilih bungkam saat dimintai keterangan oleh media. Namun, banyak sumber dari dalam lingkaran musik mengakui sebuah kenyataan pahit. Trik pemasaran manipulatif semacam ini sebenarnya sudah lama dimainkan di balik layar, sama ratanya baik oleh artis dari label independen maupun label raksasa.